Kisah Langit dan Laut · Uncategorized

Surat Untuk Langit

Halo, Langit.

Yang selalu terhampar begitu luasnya di hadapan. Bersama tiap bias mentari yang melukis warnamu. Bersama tiap mega yang menghiasi indahmu.

Begitu banyak hal yang mungkin tak mampu kukatakan. Bagaimana aku, lautan, terhampar luas di bawahmu menerima tiap mendung kelabumu, cerah birumu, rona senjamu, dan gelap malammu. Bagaimana aku selalu merefleksikan tiap warna yang kaubawa.

Memandangimu dari kejauhan begitu syahdu dan sendu pada satu waktu. Bagaimana tidak, kaulah langit yang terhampar luas tepat di hadapanku, namun kau pula langit yang begitu jauh dari genggamku.

Bagaimana biru kita mampu berpadu namun raga kita tidak akan pernah satu. Bagaimana udaramu berhembus tepat di atas garis lautku, namun tak pernah mampu kugapai. Bagaimana airku mengalir, menderu tepat di bawahmu, namun kau tak pernah tahu. Apakah perbedaan mampu begitu menyakitkan seperti ini?

Kualirkan tiap tetes airku menuju tiap sela bumi sehingga tak perlu kau membentang birumu sendiri. Namun, mengapa kau tetap begitu jauh saat kau tepat berada di hadapanku? Apakah mendambamu mampu sesakit ini?

Ingin kucerca takdir, ingin kumaki takdir. Olehnya kau dan aku diciptakan begitu berbeda. Olehnya kau dan aku mampu berpadu dalam satu biru, namun tak pernah mampu bersatu. Olehnya kau dan aku berjalan bersama pada satu jalanan namun tak pernah berada dalam satu genggam.

Langit, mengapa kau tetap begitu megah dan indah di atas sana? Di saat aku membiru merefleksikan warnamu. Di saat bumiku terguncang, kau tetap megah dan utuh di hadapan. Apakah yang mampu membuatmu jatuh ke dalam rengkuh biru lautku? Tiadakah di dunia ini sebuah hukum maupun teori yang dapat menjatuhkanmu dalam rengkuh samudraku? Maupun melayangkanku pada pelukan cakrawalamu?

Tiap tetes ini runtuh, ombakku kian menderu dan mendebur, tiadakah usaha lain yang mampu membuatmu melihatku?

Langit, mengapa takdir membuat kau dan aku tertulis sebagai sebuah ironi?

Mengapa mencintaimu sesulit ini?

Iklan
Uncategorized

Accepting

Got the news today
Doctor said I had to stay a little bit longer and I’ll be fine

When I thought it’d all been done, when I thought it’d all been said
A little bit longer and I’ll be fine

But you don’t know what you got till it’s gone
And you don’t know what it’s like to feel so low
And every time you smile, you laugh, you glow
You don’t even know, you don’t even know

— A Little Bit Longer

____________________________________________________________________

The hardest part’s always been accepting.
To accept who you were, then,
And who you are, now.
And who you have always been.

Uncategorized

Dan Kemudian

Dan kemudian, aku berada di sana. Menunggumu di depan pintu, menunggumu keluar dan menyambut pulangku. Mengecup perlahan kening dan kedua pipiku, memelukku hangat. Kau beri aku makna pulang, yang tak melulu harus kepada asal dimana kuberada.

Dan kemudian, aku berada di sana. Terjaga sepanjang malam, tepat di sisi kau tidur dan terlelap. Dalam gelap dan sunyi malam, bersama seberkas sinar lampu tidur di kamar. Kau terpejam begitu damai. Dan aku enggan tunduk pada kantuk, untuk memastikan masih ada degup, masih terdapat hembus pada dirimu. Kau beri aku makna, terbangun mampu lebih indah dari bermimpi.

Dan kemudian, aku berada di sana. Terduduk di sampingmu, membacakan tiap ayat-ayatNya. Dengan kau yang tak pernah melepaskan tatapmu terhadapku. Dengan kau yang larut mendengarkanku. Hingga kantuk menjemputmu, hingga kau terlelap di sampingku. Kau selalu berkata kepadaku, bagaimana kau begitu menyukai waktu-waktu ketika kubacakan ayat-ayat itu kepadamu. Kau beri aku makna, bahagia mampu sesederhana itu.

Dan kemudian, aku berada di sana. Menggenggam tanganmu yang enggan melepaskanku. Menjagamu dari bising yang mampu membuatmu terbangun. Menjaga damai tidurmu. Memastikan bahwa aku ada ketika kau membuka matamu. Memastikan bahwa kau takkan kehilanganku, memastikan bahwa kau tahu aku takkan pergi dari sisimu. Kau beri aku makna, bahwa sekejap yang terlalui mampu begitu berarti selamanya.

Kau ajarkan aku, bahwa kasih sayang tak melulu perihal satu darah yang sama mengalir dalam tubuh. Kau ajarkan aku, bahwa tiap waktu yang dilalui mampu begitu berharga. Kau ajarkan aku, bahwa satu hari untuk masih dapat hidup begitu berarti. Kau ajarkan aku, bahwa masih mampu mengingat adalah sebuah syukur.

Hingga kemudian, aku berada di sana. Bersamamu selalu di dalam tiap doaku. Menitipkan tiap rasa dan tiap rindu dalam jatuh dan sujudku di hadapanNya. Semoga Allah senantiasa menjagamu dan memulihkanmu.

Semoga kau selalu tahu betapa aku begitu menyayangimu. Selalu.

Uncategorized

Tentang Doa

Doa adalah kerendahan manusia, sebagai seorang ciptaan, terhadap penciptanya.
Doa adalah bentuk kelemahan manusia sebagai makhluk yang tidak memiliki kuasa.
Doa adalah keberserahan, ketertundukkan, kepada Dia Yang Maha.

Doa adalah bentuk harapan, dalamnya mereka hanyalah manusia biasa yang ingin hidup dalam harapan, serta ingin menghidupkan harapannya.
Doa adalah nyala api yang tidak pernah membara maupun padam, ia tetap ada, menyala.

Doa adalah tiap pertanyaan dan pernyataan yang manusia ajukan kepadaNya.
Doa adalah ruang rindu, tempat kau berusaha menemukan pulangmu.
Doa adalah jarak terdekat yang kau punya dengan mereka, sekalipun mereka yang telah melangkah jauh.

Doa adalah mengayuh sepedamu, tanpa bantuan gigi, pada jalanan terjal dan tanjakan curam di mana kau tak tahu di mana ia berujung.
Doa adalah sebuah perahu, yang mencoba berlayar pada samuderaNya, walau dalam debur dan deru ombak, dalam taufan, ia hanya ingin bermuara kepadaNya.

Doa adalah tiap sajak, tiap puisi, yang dipilin dan dideklamasikan, dalam sunyi dan sepi.
Doa adalah mengetuk pintu langit, saat semua pintu di dunia tertutup dan terkunci.

Doa adalah jalanan setapak yang kauharap dapat membawamu pulang.
Doa adalah bentuk kepercayaan, keyakinan, dan bagaimana manusia selalu mempunyai harapan dan pilihan.
Doa adalah senjata paling kuat yang mereka gunakan secara diam-diam.

 

Dan
Doa adalah caraku menjagamu.
Doa adalah caraku menyayangimu.

Uncategorized

Midnight Rain

It was 12.02 am
And the rain fell down
The skies were shaking
And the earth was cracking
The night was weeping
While people were in their deep sleep

There, I was
Listening to every drops of sad songs
That carried by the rain
The winds were howling in pain
Because the skies were collapsed
In a dark, dark night

It was a silent grief
And a lonely loss
A quiet cries
For a lost love
So that the night carried a miserable poems

But, I thought it was either the earth or the skies
That griefing, but
It was the universe
Of mine
Was broken in the midnight rain

Uncategorized

Pada Semesta Yang Lain

Mungkin pada semesta yang lain kau tak perlu hidup seperti ini. Mungkin pada semesta yang lain kau tak perlu merasakan sakit seperti ini. Mungkin pada semesta lain kau dan aku bukanlah sebuah sajak ironi tentang langit dan laut. Mungkin pada semesta yang lain aku memiliki lebih banyak waktu untuk memelukmu, untuk menenangkanmu, untuk hanya duduk di sampingmu pada tiap sendu dan sepimu. Mungkin pada semesta lain aku memiliki lebih banyak waktu luang untuk berbagi tiap ayat-ayatNya kepadamu. Mungkin pada semesta lain kau dan aku adalah kita dengan kata yang satu. Mungkin pada semesta lain tak perlu ada aku bertarung dan bertaruh melawan waktu untuk menggapaimu. Mungkin pada semesta lain pulang adalah sepasang matamu, sesimpul senyummu yang berdiri menyambutku di depan pintu rumah. Mungkin pada semesta lain aku tak perlu mencaci waktu sebab kutakut kalah olehnya dan kehilanganmu.

Walau kau dan aku bukanlah satu degup dan tak pernah berbagi satu denyut detak jantung, kau adalah cerita dan tiap sajak yang selalu kuadukan dalam tiap sujudku kepadaNya.

Semoga kau dan ibuk selalu baik-baik saja.