#30HariMenulisSuratCinta · Meng(g)enang

Meng(g)enang

Sebuah surat, sebuah catatan hati, teruntuk sebuah kota dimana semua memori pernah ada.

Tiba sudah kini aku di kota yang sudah lama kutinggalkan. Kota teduh dimana rintik hujan terlalu cinta untuk jatuh dan gemar untuk membasahi buminya. Dimana harum tanahnya membuatmu rindu, rindu untuk sekadar duduk maupun berjalan sepi menikmati tiap tetes hujan yang turun. Dan, ya, aku tiba di kota ini, yang mereka sebut dengan kota hujan. Dan yang tak lain hujan dan kota hujan merupakan saksi bisu tentang aku dengan sosoknya. Tentang kita yang dulu pernah ada.

Sebuah kota memang saksi bisu terhebat yang pernah ada. Di bawah rengkuhan langitnya, di atas tanahnya tempat kita menapak, bahkan hiruk-pikuknya pun mampu berbisik dan bercerita, bahkan memutar serangkaian film yang dipercepat―tentang memoar yang kau punya. Hari ini aku mengibaratkan sebuah kota sebagai sebuah jurnal atau catatan harian. Dimana tulisan yang ada ialah perihal yang lampau dan yang kini kau pernah dan sedang lakukan. Dan ia merupakan buku yang mampu kapan saja terbuka, saat aku menatap langitnya, saat aku menapaki jalanannya, saat aku berada di tengah hiruk-pikuknya―dan memoar yang pernah ada tertulis jelas di setiap sudutnya untuk kau baca, sekalipun kau tak mau.

Tetapi, kotaku, kau terlalu ironi untuk kukenang sebagai sedih. Hujan sudah terlalu sering membasahi bumimu, dan tak perlu lagi kubahasakan kesedihanku. Mungkin kau terlalu lelah untuk tangis disaat aku lelah untuk menahan tangis. Tetapi, hari ini aku bercermin pada hujan yang turun, bahwa benar, kau terlalu ironi untuk kukenang sebagai sedih.

Bukan salahmu, bukan salahku maupun salah orang lain. Sekalipun memoar itu tak pernah kutulis langsung dalam lembar demi lembar kertas, namun ternyata, kotaku, kau penulis yang lebih baik dariku. Biarlah, kini aku melangkah dengan dewasa, bahwa memoar yang kau bisikkan dari setiap sudut kotamu bukanlah sesuatu yang harus membuat tetes demi tetes hujan berjatuhan. Memoar tentangku, tentang sosoknya, tentang segala yang pernah ada, ah, biarlah mereka menjadi sebuah buku. Yang pada nantinya akan kudongengkan pada diriku di masa mendatang. Dan aku ingin mendongeng agar aku mampu melihat sebuah perpisahan dari sudut pandang yang jauh lebih baik.

Tetapi, entah apa itu namanya, ketika sore itu aku melihat seorang berjalan di jalanan yang dahulu biasa kutapaki. Aku seakan menyaksikan bagaimana aku dulu sering melewati dan menapaki jalanan itu, bersama dan beriringan dengan langkah milik sosok itu. Ada sebersit sepi dan entah sesuatu yang mungkin harus kusebut dengan rindu, yang menyusup ke dalam dada ketika mengingatnya. Tetapi, lagi, aku tak akan sedikitpun menghujani bumi milikku, di bawah langit kotaku yang sedang menghujani buminya. Tentang masa yang lampau, tentang aku dan dia, tentang kita, lebih baik dikenang dalam senyum.

Perpisahan dan segala kisah tentang pertemuan kita dahulu sudah disimpan dalam memori kota ini. Tentang memoar manis yang pernah kau dan aku tak sengaja menulisnya di lembar demi lembar di kota ini. Biarkan tersimpan dalam arsipnya, dan biarkan terkenang dengan indah ketika langit, jalanan, serta hiruk-pikuk kota ini perlahan membisikkannya. Dan, entah, arsip itu akan menua, segala tentang kita dahulu mungkin akan perlahan terkikis oleh usia dan gugur oleh umur. Maka, aku hanya akan mengenangnya dengan indah, selagi aku mampu mengingatnya.

Perlahan kutapaki jalanan itu, pada kisah yang dibisikkan kota ini, perlahan tampak bayangan langkah kaki milikmu mengiringi langkah milikku. Dan hujan pun perlahan turun, membasahi kota ini, membahasakan rinduku, dan membasuh kesendirianku. Dan menggenang―mengenangmu.

Iklan
Meng(g)enang · Uncategorized

Meng(g)enang: Enam

Kisah semusim. Berawal pada penghujan, berakhir pada penghujan. Berawal pada senja muda, berakhir pada sebuah senja tua. Berawal pada angka yang sama, dan berakhir pada angka yang sama. Berawal dengan tatap yang sama, dan berakhir pada tatap yang sama. Berawal dengan kau yang mengantarku pulang, dan berakhir dengan aku yang mengantarmu pulang. Tahukah kau bagian terpenting dari semua ini? Berawal dengan indah dan berakhir dengan indah. Kisah semusim, penghujan panjang, kau dan aku.

Enam.

Enam untuk segalanya. Enam yang pernah menjadi segalanya dan tetap menjadi segalanya. Enam untuk akhirnya hitungan itu tiba dan terhenti pada sebuah penghujung musim penghujan.

Masih jelas, masih sangat jelas kuingat bagaimana semua ini mampu bermula, sebuah tatap pada suatu sore di awal musim penghujan. Pada setiap tatapmu, semenjak hari itu, aku akan selalu ingat bagaimana semua ini bermula. Bagaimana kau dan aku menjadi kita, bagaimana kita menelusur setiap jalanan bersama. Memadu langkah, bersama, dan beriring. Dibawah setiap rintik, dibawah setiap terik. Membagi genggam, senyum dan setiap kisah yang menurut orang tak berarti.

Ada banyak hal tentangmu yang bahkan kata pun tak mampu menuliskan kita. Ada banyak waktu-waktu berarti, ada banyak hal-hal kecil yang memiliki arti besar. Ada banyak warna langit, ada banyak tetes hujan, ada banyak jejak langkah, ada banyak jalanan, ada banyak kata, ada banyak kisah yang sudah kita bagi.

Tetapi, pada hari itu, kau dan aku cukupkan. Mencukupkan semua manis sebelum berujung pahit. Tiba sudah hari dimana mampu melihat tatapmu itu tak akan pernah cukup. Melihat senyum dan tawa yang kau lukis diwajahmu, andai mampu kuhentikan waktu untuk sekadar membingkainya. Mendengar suaramu, mengingat bagaimana kau memanggil namaku. Aku tiba di hari dimana semuanya tidak akan pernah cukup.

Kau, pernah menjadi seorang yang membuatku belajar untuk berdamai dengan diriku dan keadaanku. Kau pernah menjadi seorang yang memiliki kedua mata itu, dimana aku ingin selalu pulang dalam tatapanmu. Dimana aku selalu ingin pulang dalam genggamanmu. Dimana aku selalu ingin pulang ketika kau memanggilku. Dimana aku ingin selalu pulang kepada hatimu. Dan dengan bersamamu, aku sudah merasa pulang.

Tetapi hari itu benar tiba juga bukan? Hari dimana semuanya tidak akan pernah cukup. Ada sebagian dariku yang pergi, entah apa itu. Dan hanya hilang dan pergi, tanpa kutahu harus kemana ku mencari. Ada satu bagian dariku yang kosong. Ada rindu yang seakan meluap. Tentangmu, memang mungkin tak akan pernah terasa cukup.

Kulihat lagi tatap milikmu, yang sebelum hilangpun rindu itu sudah tiba. Benar, masih jelas kuingat hari itu. Hari dimana aku bertanya pada hati ini, “Hati, cukup beranikah kau untuk mulai jatuh dan mengalir, seperti hujan yang turun hari ini?” Bukan hanya pada hari itu, bukan sehari atau dua hari setelahnya, bukan sebulan bahkan satu tahun setelah hari itu. Hingga hari dimana semuanya tidak akan pernah cukup, aku berkata lagi pada hati ini, “Hati, hingga detik ini kau sudah cukup berani untuk jatuh dan mengalir.”

Dan senja sudah menua, jika dahulu pada senja muda itu kau antarkan aku pulang. Pada hari itu aku yang mengantarkan kau pulang. Di stasiun itu, di hari dimana semuanya tidak akan pernah sedikitpun terasa cukup, kau, dan aku cukupkan kita. Perlahan aku melihatmu melangkah pergi, menuju keretamu. Aku melihatmu dari pagar yang membatasi tempat aku berpijak dan tempat kau melangkah pergi. Hingga yang tersisa kini hanya punggungmu, dan betapa sudah, aku merindukan tatapmu. Sungguh, pada saat itu aku hanya ingin melakukan apa saja agar mampu melihat tatap milikmu lagi. Tetapi aku tidak bergeming dalam diamku. Berdiri mematung melihatmu melangkah pergi. Hingga perlahan kereta yang kau tumpangi bergerak, dan mulai berjalan. Sungguh, aku ingin mengejarmu saat itu, tetapi tetap, aku hanya tidak bergeming dalam diamku. Hingga gerbong terakhir kereta itu hilang dari tatapku.

Tetes yang jatuh sewaktu hujan di hari itu. Hari bagaimana semua ini mampu bermula. Dan hati yang jatuh dan mengalir hingga kini… Menggenang. Mengenang kau dan aku, mengenang kita, mengenang segala hal tentang semusim penghujan panjang.

Pada kalimat terakhir sebelum kau melangkahkan kakimu untuk menuju keretamu, aku berkata,

“Semoga dengan izin Tuhan, di suatu hari nanti, pada suatu kesempatan, kita mampu bertemu lagi, di waktu yang lebih tepat dan dengan kondisi diri yang lebih baik.”

Jaga dirimu, semusim penghujan panjang, yang tak akan pernah terasa cukup.

Meskipun ketika pada akhirnya aku sadar
Aku membangun sesuatu yang tercipta untuk runtuh
Dan segalanya perlahan terlepas dari genggaman tangan
Aku tahu bahwa hatiku akan selalu disana
Untuk menyimpan segala yang hilang dan pergi
Dan sekali lagi, aku akan berjalan
Dan api di dalam hati ini akan selalu dan tetap menyala

Days last one way ticket train pulls in
We smile for the casual closure capturing
There goes the downpour
Here goes my fare thee well

Only so many words that we can say
Spoken upon long distance melody
This is my hello
This is my goodness

Maybe in five or ten yours and mine will meet again
Straighten this whole thing out
Maybe then honesty need not be feared as a friend or an enemy
This is the distance
This is my game face

There’s really no way to reach me
There’s really no way to reach me
Is there really no way to reach me
I’m already gone?

So this is your maverick
This is Vienna

The Fray – Vienna

Meng(g)enang · Uncategorized

Meng(g)enang: Lima

Terkadang, mungkin, kau dan aku harus melangkah dengan jarak. Bukan lagi beriring dan bergandengan tangan. Masih, aku masih menyimpan segala nyala api. Bahwa apa yang telah jatuh dan mengalir takkan terhapus bahkan berakhir pada arus padam hanya dengan jarak. Karena masih, kita menapak dan berpijak pada bumi yang sama, pada negeri yang sama. Penghujan hampir habis merentang. Kau dan aku. Dan rindu-rindu. Dan bersama menghabiskan waktu, sebelum jarak merentang, sebelum kemarau datang. Di Negeri Hujan.

Lima.

Nyala api itu masih berhasil bertahan. Untuk tetap menyala, dan menghantar hangatnya. Perlahan dingin itu mati, perlahan bongkahan es itu leleh dan luluh. Apa yang kita punya kini waktu, dan apa yang kau dan aku ingin ialah waktu. Sebelum penghujan benar berakhir, dan kemarau datang dan merentang nanti. Sebelum jarak tiba.

Kau masih disini. Masih disisiku, masih berjalan bersamaku. Masih menikmati sepi dan menelusur jalanan lengang hingga setapak ini. Masih bersama mencari rasi bintang dan hembus angin. Masih mengalir bersama, masih menuju sebuah muara bersama. Tapi terkadang rindu tak tahu malu. Rindu tak tahu tempat dan waktu. Rindu terasa egois, karena dengan kau disini pun rindu tetap ada. Rindu tetap hadir, meminta kau tuk tetap tinggal, meminta jarak untuk tak hadir.

Jujur, aku tak tahu bagaimana jadinya saat jarak merentang diantara kita. Ketika waktu yang kita bagi tak lagi terasa sama. Dan terkadang, rindu terlalu cepat hadir, bahkan sebelum jarak itu terlukis. Baru, baru saja nyala api itu berhasil lelehkan dan luluhkan bongkahan es itu. Namun, sebelum kita mampu untuk bersama menghabiskan waktu, ada jarak yang terlebih dahulu menghabisinya.

Semenjak kita lewati hari-hari dingin itu. Semenjak kita lewati hari-hari dimana dengan susah payah untukku tetap menjaga nyala api itu. Sempat kudapati rasa takut, ketika tidak mampu lagi menemukan tatapmu dengan binar seperti bagaimana ketika semua ini bermulai. Ketika hanya mampu menemukan redup, dari apa yang dulu pernah hidup.

Tetapi aku sadar, nyala api itu akan tetap dan selalu ada. Karena kau adalah kau. Dan kepada sepasang matamulah tatap ini akan selalu pulang. Kepada sepasang mata milikmulah aku akan selalu ingat, tentang tetes hujan pertama setelah kemarau merentang. Dan ingat ini, sejauh apapun awan membawa tetes hujan, tetes itu akan selalu kembali pulang menuju muaranya. Sejauh apapun jarak yang akan merentang, rindu-rindu ini akan selalu menujumu, do’a-do’a ini ialah bait-bait yang akan mengucap, melafalkan, dan mengeja namamu. Dan aku… Akan terus menempuh pulangku kepadamu.

Segala hal terasa seperti do’a. Setiap detik dan detak yang sudah, setiap detik dan detak yang sedang, setiap detik dan detak yang akan. Menjadi bait-bait do’a sederhana yang akan kupanjatkan dan kuaminkan.

Karena bersamamu, mengucap kita adalah bait-bait yang tersisip dalam do’a-do’a sederhana, yang terucap sebelum terlelap.

For all that it’s worth, is it worth it?
Cause more than it’s hard to desert it
For all that it’s worth, is it worth it?
How do we know without searching?

I will write you this song to get back what’s ours
Would that be enough?

I will always be yours forever and more
Through the push and the pull
I still drown in your love
And drink ’til I’m drunk
And all that I’ve done,
Is it ever enough?

A Rocket To The Moon – Ever Enough

Meng(g)enang · Uncategorized

Meng(g)enang: Empat

Jalanan tidak akan selalu tampak lurus dan mulus. Langit terkadang tidak selalu tentang biru. Dan terkadang, dingin, bukan perihal hembusan angin yang menusuk. Pada suatu penghujan sepi, ada nyala api yang masih ingin menyala, walau telah, ia ditiup habis oleh dingin, yang kaupun tak tahu siapa yang meniupnya. Kau, aku, dan sebuah penghujan sepi di Negeri Hujan.

Empat.

Lama sudah kini kita mengalir. Berjalan menelusur tiap jalanan basah, jalanan lengang, hingga setapak di negeri ini. Entah, apakah angin yang berhembus dengan senyap, namun dinginnya betul menusuk. Entah malam yang merentang terlalu lama, hingga jarang kutemukan biru langit. Jarang kutemukan setitik cahaya matahari. Pekat dan teramat dingin, walau kutahu kau masih disini, di negeri ini, melangkah bersamaku.

Pada hari itu kau tetap melangkah, sementara aku disini nyaris mati. Entah darimana dingin ini berasal, namun dingin, teramat dingin. Ada suatu di dalam tubuh menggigil dengan dahsyatnya, berteriak meminta sedikit hangat api. Aku dingin, bahkan dalam penghujan dan tetes-tetesnya terus turun ke bumi, bahkan dalam hembusan angin malam yang menyelimuti, sesuatu di dalam sini, di hati, mungkin jauh lebih merasa dingin dari tubuh yang menggigil.

Bagaimana mungkin, kau yang berada dihadapanku, bahkan tak sedikitpun terasa hadir, terasa ada. Seakan ada sesuatu dari dirimu yang telah jauh pergi, entah kemana. Saat kugenggam lagi tangan milikmu, terasa nyata, namun ada dingin yang hadir, dan entah angin dari ufuk mana yang menghembusnya. Kutatap lagi kedua mata itu, terasa nyata, aku mampu melihat kedua rembulan hitam dihadapan, namun dingin itu tetap hadir, yang sungguh, aku tak tahu darimana datangnya.

Ada angin yang terus berhembus di dalam hati, ada dingin yang membuat segalanya menggigil, ada sebongkah es yang perlahan membekukan sesuatu di dalam hati. Meniup habis segala hangat dan nyala api.

Apakah kau yang ada kini memang nyata, namun tak sedikitpun kau hadir dan ada? Aku masih mencari bagianku yang hilang itu, bagianmu yang entah sudah melangkah jauh kemana. Aku masih bersusah payah menyalakan nyala api itu, mempertahankan pendar dan hangatnya. Namun dingin tetap hadir, dan sungguh, aku ingin membunuh rasa dingin itu.

Kumohon, jangan meniup habis nyala api yang bersusah payah untuk tetap bertahan dan menyala. Karena sia-sia kujaga nyala api ini, jika kau hanya ingin meniupnya habis. Sia-sia kujaga hangat ini, jika yang kau beri hanya dingin.

Bukankah semestinya semua ini sesederhana air yang mengalir? Jatuh dan mengalir bersama gravitasi, bukan arus padam. Setiap hati kita ialah sebuah muara, samudra, lautan luas, tempat kemana setiap yang mengalir akan selalu pulang. Jaga permukaannya agar selalu tenang, jangan hadirkan banyak ombak, yang hanya akan memporak-porandakan arusnya.

Memang, semestinya aku tahu, “Ketika pada akhirnya aku sadar, aku membangun sesuatu yang tercipta untuk runtuh.” Tetapi mengapa aku tetap membangun hal itu? Risiko. Itu yang aku ambil. Keyakinan. Keyakinanku untuk mencoba, itu yang aku punya, walau kutahu, hati ini pernaah terhempas, patah, remuk, hingga meski ia tinggal serpih.

Kau tahu? Memulainya membutuhkan keyakinan yang kuat, dan menjalaninya mungkin akan terasa berat. Bertahan, cobalah untuk bertahan, walau itu terasa sulit. Saat ini, mungkin, bertahan terasa berat bagiku, tapi mungkin itu satu-satunya pilihan yang aku punya. Mungkin hanya dengan itu caraku untuk jatuh, mengalir lagi dan lagi untukmu.

Kutatap lagi kedua mata milikmu, jauh, dan lama sudah aku mencari kemana perginya tatapan milikmu. Yang mampu melihat segala ketaksempurnaan milikku namun tetap kutemukan keduanya berbisik aku berharga. Perlahan tiap tetes mulai mengalir, dari bumi hati. Ada ketakutanku untuk tak mampu melihat tatapan milikmu yang itu.

Kau kini mampu melihatku terjatuh, bahkan terjun bebas. Tapi tak tahukah kau bahwa apa yang rintik hujan lakukan hanyalah menerima untuk jatuh, agar ia mampu mengecup dasar bumi. Lihat aku, susah payah kujaga segala nyala api ini, hentikan dingin ini, sudahi dingin ini. Jangan memenjarakan dirimu dalam penjara es yang kau buat sendiri. Mari jalan lagi beriringan, jangan kaubiarkan sebagian dari dirimu pergi jauh terlebih dahulu. Genggam lagi kedua tanganku, lihat nyala api ini, walau mungkin hanya pendar, rasakan hangat ini, terima apa yang berusaha dihantarnya. Karena nyala api ini masih ingin tetap menyala untukmu, walau segala sesuatu terasa dingin.

Perlahan, biarkan ia lelehkan bongkahan es yang menyelimutimu. Karena nyala api itu selalu ada, yang entah kapan ia mulai menyala, mungkin lebih lama dari yang aku tahu. Nyala api itu tetap menyala dan ada. Untukmu.

…Dan tahukah kau nama lain dari nyala api itu?

Keyakinan.

 

There’s a thousand ways for things to fall apart
But it’s no one’s fault, no, it’s not my fault
And maybe all the plans we made might not work out
But I have no doubt even though it’s hard to see
I’ve got faith in us, I believe in you and me

 

So hold on to me tight

Hold on, I promise it’ll be alright
‘Cause it’s you and me together

And baby all we’ve got is time
So hold on to me, hold on to me tonight

 

Michael Buble – Hold On

Meng(g)enang · Uncategorized

Meng(g)enang: Tiga

Bumi tiada pernah enggan untuk merengkuh tiap tetes hujan yang jatuh. Membiarkannya meresap dan merasuk ke dalam pelukannya. Mungkin karena itu langit mencintai bumi. Dengan tiap pedihnya, bumi akan selalu ada untuk menerima. Menerima. Negeri hujan menerima kau dan aku untuk berkisah dalam pijakannya.

Tiga.

Ada kalanya langkah kita tidak beriringan ketika kita menapak jalanan panjang itu. Ketika aku terbiasa dengan ritme langkahku, dan kau tak mampu menyesuaikannya dengan ritmemu. Ketika terkadang kau terasa seperti berlari terlalu kencang, dan aku dengan sekalipun berlari tak sedikitpun mampu mengejarmu.

Tetapi entah apa yang berbisik dari dalam hati, ketika ritme langkah kita tak lagi sama, atau ketika kau berlari meninggalkanku jauh di belakang, ada ketukan yang membuatmu sadar bahwa kau kini sendiri. Kau kini berjalan sendiri. Bukan diiringi sepasang kaki yang lain, sehingga mungkin di suatu tempat kita akan berhenti. Menoleh ke belakang, dan sadar, bahwa kita tidak membiarkan langkah kita beriring.

Kau sebagai pejalan, pengelana, pengembara, penangkap api bersama sebongkah es yang kau bawa, untuk menempuh perjalanan panjang sudah pasti terbiasa melangkah sendiri. Dan aku sebagai penghuni negeri hujan yang memenjarakan dirinya sendiri dalam kesendirian terbiasa tuk menapak setiap jalanan lengang sendiri. Tetapi, ketika hati berbisik, bahwa kau, aku, tak lagi perlu lelah berjalan seorang diri, karena akan ada langkahku maupun langkahmu yang akan mengiringi kesepian yang pernah kita miliki.

Mengubah dua menjadi satu. Kusesuaikan lagi ritme langkahku dengan langkahmu. Agar kita mampu berjalan beriring, tak perlu ada langkah yang merasa tertinggal. Kau perlahan pun berhenti berlari, menengok ke belakang dan mungkin kau akan menemukanku jauh disana. Kau menunggu dengan sabar dengan lenganmu yang terulur. Hingga aku tiba sudah di tempatmu berada kini. Kau genggam tangan milikku, dan kita berjalan beriring.

Menerima. Menerima dua menjadi satu. Pada setiap jalanan panjang yang kita lalui, kau, aku, mengisinya dengan gema kisah kita. Kau bukan hanya menemani tapak langkah ini, tetapi kau membuatku menemukan tempat untuk berbagi. Berbagi langkah, berbagi kisah. Bahkan membagi suatu yang sudah lama kupendam sendiri. Membagi luka.

Bukan hal yang mudah, bukan pula keputusan yang mudah. Membagi ketaksempurnaan yang kupunya dengan seorang dihadapan. Tetapi karena kau memberiku ruang untuk berbagi. Aku membagi ketaksempurnaanku kepadamu. Dimana dahulu, setiap bercermin pun aku enggan menatap diri sendiri. Aku enggan melihat ketaksempurnaan yang kumiliki. Aku memenjarakan diriku dalam pikiranku, bahwa aku sungguh rendah dengan luka itu, dengan ketaksempurnaan itu. Tetapi kau membuatku ingin berbagi, ingin kau melihatku dengan ketaksempurnaan yang kupunya, dengan luka yang kumiliki.

Dan kau… Kau hanya menerima. Kau hanya pererat genggaman tanganmu. Kau bisikan bahwa aku tak serendah apa yang aku pikirkan. Ketaksempurnaan dan setiap luka. Kau bisikan berulang kali dan berulang kala, bahwa kau tahu, ketaksempurnaan dan setiap luka itulah yang membangun diriku hingga aku ada yang seperti saat ini.

Hingga semenjak hari itu, aku tak segan untuk berbagi denganmu. Berbagi tentang kisah-kisah kecil bersamamu. Kau, rumah dengan pintu terbuka, tempatku memulangkan aku.

Dan semenjak hari itu, sungguh, aku ingin menatap diriku dengan benar. Aku ingin melihat diriku benar berharga, bukan diriku yang dulu kusebut rendah. Bukan pada cermin kaca, bejana emas, perak, maupun kuningan, bukan pada cermin dengan bahan termahal sekalipun. Tetapi aku hanya perlu melihat diriku dalam tatap matamu, yang tak pernah bosan memantulkan refleksiku dan seakan perlahan berbisik… “Kau benar berharga.”

Dari semua kata yang pernah ada. Pada matamu aku menemukan visi, menemukan sebuah angan, dimana aku mulai memimpikan untuk terus melihat diriku seperti aku mampu melihat diriku di kedua matamu kini. Untuk mulai membangun hidupku menjadi sebuah kehidupan yang lebih layak dan lebih baik.

Semua hal terasa benar. Bersamamu, sembuh bukanlah hanya sebatas wacana. Bersamamu, melihat aku yang ada bukan lagi bercermin pada sebuah mata pisau.

Hold my head inside your hands,
I need someone who understands.
I need someone, someone who hears,
For you, I’ve waited all these years.

In your tears and in your blood,
In your fire and in your flood,
I hear you laugh, I heard you sing,
“I wouldn’t change a single thing.”

Coldplay – Til Kingdom Come

Meng(g)enang · Uncategorized

Meng(g)enang: Dua

Penghujan terus merentang di Negeri Hujan. Setiap pagi ialah selalu tentang rumput hijau yang menyisakan embun hujan semalam. Setiap petang ialah tentang harum tanah seusai hujan. Kau, aku, dan Negeri Hujan.

Dua.

Menelusur tiap sudut negeri hujan seakan tidak pernah menemui sebuah ujung ketika itu bersamamu. Setiap lengan waktu yang mengayun kau isi dengan cerita baru. Setiap halaman dan lembar kosong kau toreh dengan tinta. Menceritakan tentang kita. Dan Negeri Hujan.

Masih mampu kuingat jelas, bagaimana melalui hari-hari sepi seorang diri di negeri ini. Setiap jalanan yang kutelusur menggemakan langkah kaki milikku sendiri. Bintang bahkan tidak tampak menari, hanya bersinar sepi menggantikan tiap sinar lampu jalanan.

Aku takut untuk jatuh. Aku takut untuk bertemu dengan gravitasi, bertemu dengan arus dan mulai tuk mengalir. Aku takut mengambil risiko untuk mampu merasakan hal itu lagi. Hal yang mungkin hanya akan bermuara pada sebuah sakit yang kau tak mampu melihat lukanya, melihat wujud sakitnya, terlebih tahu dimana sakit itu bermuara. Cinta. Kasih sayang. Sesuatu tentang hati.

Namun kau hanya hadir. Kau hanya datang. Dan kau membuatku mematahkan segala teori yang ada soal jatuh dan mengalir. Kau membuat segala hal benar mampu tunduk kepada gravitasi. Dan hatiku, mungkin, lebih tau soal itu.

Setiap waktu yang mengalir bersamamu, langkah kaki milikku dan milikmu yang melantunkan simfoni, bersama nyanyian burung kutilang yang berteduh di suatu dahan pohon cemara. Bersama hembus angin dan rintik hujan yang turut bernyanyi dalam sepi. Bahagia mungkin tak pernah sesederhana ini, hanya kau, aku, dan hamparan tanah, rintik hujan, yang bersama membahasakan hati yang jatuh dan kini mengalir.

Bersamamu, berdiri dalam pelukan pekat malam bukan lagi hitam yang menakutkan. Tetapi sebuah malam nyata tanpa bayang-bayang. Semua terasa nyata, tampak nyata, bahwa jatuh bersamamu itu nyata, mengalir denganmu benar nyata. Dan mengucap kita adalah bentuk nyata dari kau dan aku.

Mari mulai jatuh dan mengalir. Mari terus mengalir. Mari menuju sebuah muara. Mari memulangkan kau dan aku kepada kita. Dan pada hujan di hari itu, benar, aku telah jatuh pada gravitasimu.

Segala hal menjadi lebih baik. Bersamamu, pulang terasa sudah, terasa sungguh. Bersamamu, aku ingin terus mendengar suara air yang terus mengalir.

Everybody’s talking in words I don’t understand,
You’ve got to be the only one who knows just who I am
And you’re shining in the distance,
I hope I can make it through
‘Cause the only place that I want to be is right back home with you

I guess there’s so much more I have to learn,
But if you’re here with me, I know which way to turn
You always give me somewhere, somewhere I can run,
You make it real for me

James Morrison – You Make It Real

Meng(g)enang · Uncategorized

Meng(g)enang: Satu

Disana, pernah, tersebut kata kita. Pernah disana segalanya tampak mengalur dan mengalir. Pernah segalanya terasa seakan pasti menuju sebuah muara. Pernah terdapat nyanyian kerinduan yang mengalun sepanjang kemarau. Pernah terdapat kau dan aku. Negeri Hujan.

Satu.

Negeri hujan hanya tahu aku. Hanya aku yang mendiami dan menetap dalam rengkuhnya. Menikmati kesendirian, berteman sepi. Lengan jam berayun pelan dalam setiap lamunannya. Menikmati hujan. Menikmati segala sakit dan bahagia yang jatuh ke bumi. Menakdirkan diri sendiri sebagai satu yang bahkan pantas untuk memiliki kehidupan yang baik pun tidak. Sejarahku adalah luka, yang pada setiap malam sepi bercerita tentang pekat yang pedih. Hujan selalu turun lebih lama, matahari pun enggan tampak dalam penghujan. Aku menakdirkan diriku untuk terpenjara dalam rengkuhan negeri hujan. Tanpa matahari, tanpa biru langit.

Suatu hari, datang seorang pejalan, seorang pengelana. Terdampar sepi dalam negeri hujan yang jauh lebih sepi. Terperangkap dalam tetesnya. Dari sekian pilihan yang ia miliki, menetap atau mungkin singgah adalah jalan yang diambilnya. Hingga negeri hujan kini tidak lagi mengenal hanya aku. Tetapi dia juga mengenal kau. Pengembara, seorang penangkap api, bersama sebongkah es yang dibawanya.

Pada suatu sore, hujan turun dengan malu-malu. Jatuh perlahan bersama rintik-rintik. Dengan malu kau dan aku, memperkenalkan diri kepadanya. Sebagai kita. Jatuh tidak pernah terlintas dalam opsi, tetapi semesta tunduk pada hukum gravitasi, tidak terkecuali pada hati.

Entah, sudah seberapa jauh kutelusuri negeri hujan sendiri. Entah, sudah berapa lama kubiarkan sepasang kaki ini berjalan sendiri. Hingga kau, pengembara, pejalan jauh, seorang penangkap api bersama sebongkah es yang kau bawa, menapak negeri yang sama denganku. Seperti hujan yang turun, hatiku tak lagi memiliki pilihan selain untuk jatuh. Luntur sudah segala kesendirian, kau iringi langkah sepasang kaki milikku bersama sepasang milikmu. Kau ulur sepasang tangan milikmu untukku berpegangan dan tak terjatuh.

Pekat malam kini bukan perihal hitam bersama simfoni sepi yang berbisik. Tetapi perlahan tampak terang bersama tarian bintang dan nyanyian cinta rembulan terhadap pendarnya. Kau buat setiap yang menetes rindu untuk mengalir. Mengalur dan mengalir mengikuti setiap gravitasi. Menuju satu muaranya, lautan luas.

Kau membuat setiap yang berjalan jauh merindu sebuah kepulangan. Merindu satu tempat untuk menetap, dimana setiap langkah yang pergi akan terus memanggil pulangnya dan kembali padanya.

Negeri hujan dan kita. Jatuh, mengalir, bermuara.

Berjalan dalam setiap tetes yang jatuh, membasahi dan membasuh tubuh kita. Membiarkan hujan tetap jatuh dan mengalir. Membiarkan hati jatuh dan mengalir. Hingga bermuara kelak.

Tuhan, pasrahkan hati ini untuk jatuh. Selapang dan sepasrah hujan membiarkan dirinya jatuh… Untuk bertemu bumi. Dan.. Kau. Gravitasi, yang membuat hati turut tunduk kepada hukummu untuk mampu jatuh.

Rabu, hari hujan turun pertama setelah kemarau panjang itu, biarkan aku memanggilmu kembali.

Segala hal semakin membaik. Kau tetap menjadi seorang kemana aku akan selalu pulang. Kau selalu menjadi malamku, dimana tak akan ada bayang-bayang.

Suddenly I’m caught in your light
Opened the door, and you stepped inside
And I’m watching the hours
Looking for reasons
Find that I’m missing every beat of your heart
‘Til you’re back in my arms,
I’ll be waiting up, counting the stars
Counting the stars

Augustana – Counting Stars