Kisah Laut dan Langit

Batas Langit dan Laut

Setipis batas yang langit dan laut punya
Setipis garis yang memisahkan keduanya
Terlukis dalam satu biru, namun tak pernah satu
Kau adalah tepian pucuk langit
Saat aku dasar palung laut
Adakah hukum-hukum fisis yang mampu menjatuhkanmu ke dalam samudraku?
Maupun melayangkanku pada rengkuh cakrawalamu?

Karena sejauh apapun yang pernah kutempuh
Adalah tempat paling dekat untuk menujumu
Dan sedekat apapun jarak antara kau dan aku
Tetap, batas itu akan selalu ada di sana
Karena setipis dan senyata itu garis yang membatasi kau dan aku

Kau dan aku—kita begitu ironi
Tertulis sebagai sebuah puisi
Tentang kisah langit dan laut
Yang berpadu dalam biru
Namun tak pernah satu

Kini, yang tersisa hanyalah
Tiap uap airku yang mampu menggapaimu
Dan tetes hujanmu bermuara menujuku
Dan kita sebut itu sebagai doa

Iklan
Kisah Laut dan Langit

Menunggu Langit Jatuh Hati

Langit,
Apakah yang membatasi kau dan aku
Sehingga birumu tepat jatuh di pucuk pandangku
Namun tak pernah sedikitpun mampu kugapai

Langit,
Setebal apakah cakrawala yang tepat berada di antara kau dan aku
Sehingga luas biruku terhampar di bawah tatapmu
Namun tak pernah mampu merengkuh luas biru bentanganmu

Langit,
Beri aku setetes hujan yang engkau bendung
Karena meski seluas samudra telah kurengkuh
Namun, kau dan milikmu tetap satu yang kutuju dan kutunggu

Walau benar, engkau begitu jauh dari pelukku

Kisah Laut dan Langit

Kisah Laut dan Langit

S__27582475
Pantai Pasir Putih, Trenggalek

Tidakkah kamu melihatnya?

Walau laut dan langit begitu padu dalam biru, meskipun tak pernah sama dan tak pernah satu, laut luaskan muaranya sebagaimana langit bentangkan tepinya. Bahkan pada hamparan bumi, laut titipkan tiap tetes yang mengalir, membiarkan tiap tetesnya mengejar bentangan langit, hingga langit tak perlu membentangkan birunya sendiri. Laut begitu mencintai langit, pada senja pudar ia bersedih hingga hadirkan pasangnya ketika langit kehilangan birunya.

Mentari senja ialah erat genggaman tangan keduanya, ketika senja perlahan pudar, dituntun dan digenggamnya mentari itu bersamaan, diantarkan oleh keduanya mentari itu hingga pulang pada peraduannya. Hilang sudah mereka dalam pekat dan gulita, tiada biru yang bersisa ketika malam benar tiba.

Dari sekian banyak perbedaan yang mereka punya, pada satu biru yang tak pernah serupa dan sama, laut benar tahu kemana birunya akan berlabuh dan langit pun mengerti kemana birunya akan jatuh. Begitulah kisah laut dan langit, dengan segala perbedaannya mereka saling mencintai—sedalam dan seluas biru yang mereka punya.

Maka, mampukah kita?