#30HariMenulisSuratCinta

Memulangkan Setiap Pijakan

Ada ikatan, entah bagaimana bentuknya, perihal seorang dengan kampung halamannya. Rindu akan tiap pijakan, akan tiap hamparan, hembus angin, hingga pendar cahaya.

Pijakan pertama, kamu kembali, kamu pulang. Memulangkan segala lelah raga dan bising pikiran. Menghirup aroma rindu yang akhirnya terbebas dari tiap belenggu. Mengistirahatkan setiap tatap dengan tiap perubahan, entah letak lemarimu entah itu kursi yang seharusnya menghadap ke barat dan hal lainnya.

Pijakan kedua, kamu berhenti pada suatu titik. Mungkin itu pada sudut ruangan atau tepian teras rumah. Perlahan putaran film masa lampau merenggut alam sadarmu. Tentang ayah, ibu, tentang tangismu, tentang tempat di mana kamu sering terjatuh. Sejenak udara terasa pergi meninggalkan paru-parumu. Ada kosong, ada hampa yang mengisi banyak dari tubuhmu. Ada sepi yang ingin berbagi denganmu.

Pijakan ketiga, kau akan terduduk, terdiam bertemankan sepi. Membagi tiap detik ingatan yang memutar kenangan tentangmu. Mengingat bahwa pohon di depan teras masih setinggi tubuh kecilmu, hingga kini ia menjulang mengecup langit. Mengingat perihal ayunan kecil tempat kau dulu bermain, hingga kini ayunan itu tak ada lagi. Mengingat begitu sederhana kau mampu rindu. Tiap sudut rumah seakan bercerita, berebut tempat dalam alam pikirmu. Merindukan kau yang kini meninggalkannya jauh.

Pijakan keempat, mungkin dadamu mulai terasa sesak. Mengingat betapa jauh kau telah melangkahkan kaki meninggalkan rumah. Mengingat betapa lama kau pergi jauh dari rumah. Mengingat betapa besar keriduanmu untuk pulang, untuk mampu kembali tinggal. Merebahkan segala hari yang lelah. Memeluk segala memoar seakan kau enggan satu pun pergi dari pikirmu.

Pijakan kelima, kau akan berpaling dari tempat kau terdiam. Memeluk sosok yang selalu kau rindukan. Mengembalikan ragamu yang lelah ke dalam pelukan mereka. Memulangkan jiwamu, yang tak kunjung henti mengucap nama mereka dalam doa, ke dalam rengkuh kasih sayang mereka.

Pijakan keenam, kau akhirnya pulang. Pulang untuk memulangkan segala jarak yang dulu merentang. Pulang untuk mengambil tiap kepingan memori yang hilang. Pulang untuk merenggut setiap definisi rumah sebenarnya. Pulang untuk mengantarkan setiap pijak yang tak mampu setiap saat kembali ke rumah. Pulang untuk mengembalikan kau kepada tempat dan orang-orang yang kau sayang.

Karena kau pulang bukan hanya kepada tempat, tetapi juga pada seseorang.

Iklan
#30HariMenulisSuratCinta

Membingkai Lukisan Hujan

Kepada lukisan hujan,

Kenapa kusebut kau lukisan hujan? Karena menatap sosokmu dalam tetes hujan termasuk dalam saat-saat yang aku nikmati. Setiap garis wajah yang dilukis hujan dan setiap simpul senyum yang ada.

Dan, hei, ingatkah hari hujan itu? Salah satu hujan favoritku. Dimana kita mulai hadir dalam kata. Dimana pada saat itu untuk jatuh bersama hujan yang turun tidak pernah terlintas dalam opsi. Namun bukankah semesta tunduk pada hukum gravitasi? Tidak terkecuali pada hati.

Hujan hari itu menutup segala kemarau yang merentang. Menuntaskan rindu tiap-tiap rerunputan dan hamparan yang lelah menahan dahaga. Dan segala kita bermula pada tetes hujan pertama ketika penghujan merentang.

Dan kau, lukisan hujan, siluet yang paling dirindu yang pernah senja lukiskan. Teman berbincang dan berbagi kisah. Tentang malam penuh bintang. Tentang setiap yang menetes, jatuh, dan mengalir. Tentang setiap warna langit di luar jendela tempat kita duduk dan saling berbagi kata dan sepi.

Dan kau, lukisan hujan, yang kini sedang mengejar mimpi. Sungguh aku tidak lagi mampu berkata, karena sudah kau dan aku menanggalkan kita. Sudah pula kita melepas setiap opsi yang ada. Saat kesendirian merangkul terlalu erat bahkan ketika kita masih saling merengkuh.

Dan teruntuk lukisan hujan yang pergi mengejar mimpimu, ingatlah ini, bahwa jarakmu dengan mimpimu ialah sesederhana jarak keningmu dengan sajadah yang terhampar di hadapanmu. Ketika kamu bersujud dan berdoa kepada Yang Maha Tak Mengenal Jarak.

Langkah ini akan sesegera meninggalkan bumi, pijakan yang juga menjadi tempat kau berbagi langkah. Pada sebuah senja dimana aku pernah mengantar sebuah kepergian. Dan jarak akan kembali merentang. Namun tentu kau tahu bukan? Bahwa kita tetap punya jarak terdekat yang disebut dengan doa.

Kau adalah lukisan hujan dimana aku selalu ingin membingkaimu dalam indah. Ini bukan surat terakhirku, bukan pula penghujung akhir penghujanku. Namun keyakinanku tetap satu, walau kemarau akan merentang selama semusim lamanya, aku akan ingat bagaimana ketika tetes pertama hujan saat itu jatuh. Dan sewaktu hujan, kala aku mengingatmu.

Selamat mengejar mimpi, kamu!

#30HariMenulisSuratCinta

Sebuah Kota Tempat Rindu Tepat Tiba

Kepada bumi tempat kaki ini menapak

Rasanya aneh, ketika benar bukan lagi seratus kilometer jauhnya jarak yang ada. Bahkan ketika sampai, ada rindu yang tiba-tiba menggebu. Dan sepasang mata seakan mencari apa yang ia mungkin belum siap untuk tatap. Tiap langkah seakan melumpuh ketika aku sadar, aku menapaki bumi yang sama denganmu. Bukan lagi perihal seratus kilometer jauhnya.

Dan sore itu hujan. Kota itu hujan. Di bagian bumi yang paling kuharapkan untuk tidak bertemu hujan. Namun sore itu hujan benar turun, bahkan dengan derasnya. Rinduku lengkap sudah, perihal menapak satu bumi denganmu, perihal menatap hujan yang turun tempat dahulu kita berbagi setiap yang jatuh dan mengalir.

Dari setiap bising yang ada entah kerinduan membuat aku hanya ingin mendengar suaramu. Dari tiap yang berjalan, berlalu lalang, entah kerinduan membuatku hanya ingin menemukan sosokmu. Dari tiap pasang mata dan lampu jalanan yang ada, entah kerinduan membuatku hanya ingin menatap sepasang mata milikmu.

Dan aku berharap mampu menemukan sebuah rasi, atau bahkan setiap lampu jalanan yang ada, agar mampu menemukan jalan untuk memulangkan setiap rindu. Bahkan kepada setiap senja tua untuk melukis siluetmu. Karena sungguh, ini benar rindu, namun aku dan rindu ini, kami, tidak tahu kemana harus mencari pulangnya.

Sekalipun ini bukan lagi seratus kilometer jauhnya. Sekalipun langkah ini menapak satu bumi yang sama denganmu.

Dan, ya, melangkahkan kaki di kota ini benar membuat sesuatu yang dinamakan rindu tepat tiba. Dan ia tidak lagi butuh kata, ia butuh kita untuk menghabisinya.

…Namun kita telah melangkah pergi jauh, ke tempat dimana kau dan aku tak lagi tahu.

#30HariMenulisSuratCinta

Membahas Ironi

Kepada setiap suara sewaktu malam sepi,

Pernah aku bertanya pada diri ini, perihal ironi yang mungkin teramat pedih. Kepada hati yang mungkin lebih tahu dan lebih luas dari dunia luar, perihal sedih yang berteriak lirih.

Kuamati sekelilingku. Aku menemukan sebuah ironi, tentang keran yang bocor dan ember yang terisi penuh. Pernahkah sedikit terpikir, soal mengisi sesuatu yang memang sudah penuh? Dan akhirnya air jatuh sia-sia. Segala yang mencoba mengisinya jatuh sia-sia. Ketika yang diinginkan setiap tetes adalah jatuh menuju muaranya, namun benarkah itu muara jika memang ia sudah terisi penuh? Tanpa sedikit ruang untuk tetes itu jatuh.

Lalu kutemukan benjana emas, dimana kilau adalah daya pikat yang ia punya. Dimana mulia adalah sebutan bagi logamnya. Namun, mampukah kamu bercermin pada permukaannya, jika sekalipun iya kamu tidak mampu melihat jelas refleksimu. Dan yang kau lihat hanya bayang, hanya bayangmu yang perlahan mengabur. Dan pernahkah kau sedikitpun tahu perihal mencari benar refleksimu di tempat yang salah? Tentang bercermin di tempat yang salah? Sekalipun cermin itu ialah logam mulia yang bernilai mahal.

Lalu kutatap jauh ke arah rumah di seberang. Seorang maling tampak berdiri patuh, dihadapan rumah yang memang sudah lama ditinggal penghuninya. Meragu akan satu langkah yang mungkin akan ia ambil untuk memasuki rumah itu. Dan sebuah rumah tidak mampu melangkah pergi atau bergerak menjauh. Ketika maling benar di hadapannya, dan penghuninya telah pergi entah kemana. Dan ia hanya kosong, dan mungkin sesaat lagi maling benar akan memasukinya. Namun, bukankah rumah hanya ingin dihuni? Hanya ingin berpenghuni?

Ada banyak ironi, ternyata. Bahkan diri ini pun seakan ironi, ketika ia berusaha mencari pulang. Menempuh lengang yang tak terhitung lagi jaraknya. Namun apa yang didapat hanyalah sebuah rumah dengan penuh sekat. Dan sesuatu di dada benar terasa sesak.

#30HariMenulisSuratCinta

Mencari Jawab

Kepada hati yang butuh jawaban,

Untuk setiap langkah dimana kamu terus merindu rumah. Untuk setiap malam dimana kamu terus mencari pulang. Untuk setiap terik dimana kamu mencari teduh. Untuk setiap gemuruh dimana kamu mencari hujan. Untuk setiap luas langit tanpa batas dimana kamu mencari sebuah penghujung.

Untuk setiap gelap dimana kamu mencari sebuah terang. Untuk setiap ruang dan sekat dimana kamu merindukan lengang. Untuk setiap bayang dimana kamu membutuhkan nyata. Untuk setiap yang pergi dimana kamu mencari hilang. Untuk setiap yang penuh dimana kamu tak mampu lagi mengisi.

Untuk setiap yang mengalir dimana kamu tak tahu dimana mencari muara.

 Hati, ingat ini, terlalu banyak tanya yang sudah kusampaikan pada dunia luas di luar sana. Namun, bukankah mencari jawaban sesederhana menatap lagi jauh ke dalam dimana akan hanya ada satu disana?

Hati.

#30HariMenulisSuratCinta

Mencari Pulang

Kepada setiap langkah yang lelah,

Setiap yang jatuh bersama gravitasi, terkadang terasa seakan terlalu cepat dan sekejap. Bahkan sebelum kita mampu mencari arti, sebelum kita temui sebuah jawaban. Dan sebelum semua terdefinisi. Jatuh merupakan hal yang paling mudah, karena kau punya gravitasi bumi yang dengan senang hati membantumu untuk jatuh.

Jatuh yang cepat, jatuh yang sekejap. Sama seperti ketika kau telah berjalan jauh, mencari sebuah penghujung jalan. Dan bukankah setiap pejalan merindukan rumahnya? Dan mencari arti kata pulangnya?

Jatuh yang cepat dan jatuh yang sekejap. Lalu salah siapakah jika kau keliru mendefinisikan arti rumah? Entah karena kau telah menempuh perjalanan yang begitu jauhnya. Entah kaki yang lelah melangkah. Entah rasi yang sinarnya mulai menghilang. Entah jalanan yang terlalu sepi dalam lengang. Entah sepasang mata yang mengabur dan menangkap fatamorgana. Atau mungkin hati, hati yang terlalu merindu rumah, dan merindu pulangnya.

Dan terkadang dari kejauhan setiap pejalan mampu samar-samar melihat wujud sebuah rumah. Dengan setiap degup yang terus mengeja kata pulang. Dengan setiap peluh yang ingin segera dibasuh. Perlahan wujud rumah benar terasa dekat. Dan kau mulai memasuki sebuah pintu. Namun tetap, bukankah tatap juga satu yang mampu saja salah?

Dan semestinya kamu tahu, bahwa sebagian rumah benar berpagar. Pintu mana yang kau masuki? Rumahkah? Ataukah hanya sebatas pagar?

…Dan benarkah kau telah pulang, di tempat yang bisa saja semestinya kau hanya singgah? Karena terkadang, kita terlalu cepat mendefinisi, sebelum benar menemui sebuah arti.

#30HariMenulisSuratCinta

Meratap Luka

Kepada setiap gores luka,

Bukan hanya satu atau dua, mungkin lebih dari itu, lebih dari yang kautahu, dan lebih dari yang kutahu. Luka, yang kata mereka yang hanya melihat, adalah hal yang hanya mampu dinilai dari sisi buruknya. Luka adalah papan, tembok, atau dinding, yang dihakimi hanya dari hukum satu sisi saja.

Luka, bagi mereka yang tahu dan milikinya, adalah sebuah sejarah dimana mereka tahu, mereka pernah terpuruk sekian dalam, mereka pernah terhempas sekian jauh dari porosnya, mereka pernah mencari sekian jauh, mereka pernah berjalan, berlari, hingga merangkak untuk mencari satu jawaban, yang sesungguhnya telah dibisikanNya dihati mereka setiap detik, setiap saat—hakikat hidup.

Untuk mereka yang melihat, bahkan menangisi, bahkan hingga berteriak untuk menutup lukanya. Mungkin mereka juga yang tidak pernah tahu bahwa yang miliki luka itu pernah jauh lebih pedih menangisi bahkan meneriakkan tangisan yang tak pernah mau pecah. Mereka pernah jauh tersesat dalam gelap tanpa tahu kemana harus mencari arah dan berpegangan pada siapa. Tetapi meratap luka, ah tidak, mengingat luka, membuat mereka sadar bahwa mereka pernah sejauh itu dari porosnya dan bahwa mereka kini bisa berjalan sejauh ini untuk menemui porosnya.

Namun, adakah luka yang tidak dipandang sebelah mata? Bukan sebagai salah dan sebagai cacat. Semoga suatu hari nanti luka tidak akan lagi dipandang sebelah mata dan tak lagi dihakimi hanya dari satu sisi saja. Dan bukankah bumi itu bulat, dimana sudut pandangnya banyak, bahkan tidak terhingga?

Malam begitu dingin. Meratap luka memaksaku untuk membuka buku lama. Terasa berdebu, hingga kau perlu sedikit bersin. Atau mungkin debu begitu menusuk matamu, hingga kau perlu sedikit menangis? Tetapi tanpa buku lama itu, tak akan ada catatan sejarah hingga aku ada untuk hidup di hari ini.