#30HariLagukuBercerita

Sebuah Senja Pudar

Bagian Tertinggal: “Sebuah Senja Pudar”

Kepada langit senja hari ini, aku kini ingin sekedar berjalan mundur, aku ingin memeluk kenangan, aku ingin sekejap membiarkan senja ini abadi, aku ingin luruh bersama rindu, aku ingin tenggelam dalam waktu, aku ingin mengingatmu…

Langit, sungguh jutaan kata yang telah menetes, semua malam yang telah terlalui, segala rindu yang memanggil, semua kenangan, asa, dan mimpi yang pernah ada dalam do’a kita, semua perasaan, semua langit, semua bintang yang pernah ada menemani, dan seribu hari perjalanan panjang yang takkan pernah mampu kembali. Izinkan kini, aku memanggil semua itu kembali ke alam pikiranku.

Setelah reuni singkat kita, langit, tahukah seberapa sering namamu kusisipkan dalam bait do’a-do’a itu? Seberapa sering aku membenci malam ketika yang mampu hadir hanya semua rindu yang terus memanggil namamu. Seberapa sering tetes itu jatuh dan luruh ke pangkuan telapak tanganku, seberapa sering aku menyusun syair-syair tentangmu, hanya untuk sekedar membuatku sadar bahwa semua itu pernah ada?

Semenjak hari kepergianmu, yang tersisa hanyalah hari-hari sepi. Kau hanya pernah hadir, meminta satu kesempatan lagi, memintaku untuk menunggu. Tak tahukah kau bahwa aku hanya mampu menanti dengan sabar dan menunggu dengan patuh? Bersama bersemi dalam semu, sulit bagiku tuk tahu dimana aku menapak, sulit bagiku tuk bedakan yang nyata dan yang hanya mimpi. Tapi kau tahu? Aku hanya disini, bersabar.

Dan kujalani hari-hari semu itu, bersama penantian panjang, bersama sesuatu yang tak pernah pasti. Kau tetap menyuruhku untuk terus bersabar. Sampai kapan? Bukan, bukan kesabaran ini yang kutanya… Tapi sampai kapankah aku… Kau tawan aku dalam semu janjimu?

Aku berjalan dan mencari, aku berbincang dan mencoba mendengar, sulit untukku bertahan ketika dunia tidak mengiyakanku. Sulit untukku terus berlari mengejarmu ketika dunia menyuruhku untuk diam dan berhenti. Sulit untukku disini, hanya disini menunggumu, ketika dunia terus bergerak. Sulit untukku, ketika mereka berkata tidak.

Kau tahu? Di hari itu merupakan kesempatan terakhir yang mereka beri untukku. Untuk sekedar meluruhkan ucapan ulang tahun yang sudah sekian lama tertahan dan tak pernah pecah. Kutunggu lagi hadirmu di hari itu, namun kau bahkan tak pernah hadir, tak pernah tahu, tak pernah sedikit pun tahu bahwa aku menunggu. Hingga waktu itu tiba, dan kesempatan terakhirku berakhir, kau hanya tak pernah ada disana untuk sekedar membuat apa yang telah tertahan jatuh, tumpah dan luruh.

Hingga akhirnya dalam sebuah senja pudar, kutatap langit senja itu. Perlahan kulepas semua janji-janji itu, membiarkannya mengudara bersama waktu. Kulepas semua semu yang membayangiku, kulepas semua sakit yang hidup disini. Kulepas isak yang terus menyesakkan dada. Kulepas semua tetes-tetes itu dari pangkuan mata. Kulepas dan kuakhiri penantian panjangku.

Adakah selamanya benar hidup dalam langit senja yang sekejap?
Karena masih siluet yang kudapat
Karena matahari masih memberi bayang kepada apa yang menapak
Karena langkah masih tertahan
Dan mata tak lekas pergi menatap senja
Mungkin ini masalah gema
Yang masih berteriak dari kedalaman jurang
Dasarnya masih memanggil
Lalu apa?
Aku iri, iri kepada matahari
Yang selalu memiliki kesempatan untuk sekedar mengucap selamat tinggal
Sebelum terang tenggelam dalam gelap
Sebelum ia habis tertelan ufuk barat
Tapi, mengapa kita tak punya?
Barang sebentar, barang sedikit
Dan barang sedetik tuk mengucap kalimat itu
Untuk sekedar saling menatap dan melambai tangan
Dan mengucap ucapan perpisahan itu
Mengapa kita tak punya kesempatan untuk membuat sebuah akhir yang lebih indah?
Bukan menunduk dan saling berlalu
Meninggalkan punggung yang hanya berhadapan dengan punggung

Adakah benar senja yang sekejap itu selamanya?
Aku berdiri di ambang senja dan malam
Menunggu waktu yang memutar warna langit itu
Aku selalu merasa masih di dalam senja
Aku masih menanti kesempatan untuk mengubah akhir dari sebuah hari
Aku masih menanti dan terus menanti
Ketika pekat malam perlahan menghapus siluetmu
Biar malam suguhkanku kenyataan
Bahwa senja hanya bayang
Dan malam nyata merengkuhku dalam realita

Bersama senja yang kian memudar, kubiarkan aku luruh dan lebur. Kau yang beri aku sayap itu ketika ku terjatuh, kau yang membuatku berani tuk sekedar bermimpi kembali, kau yang berjalan bersamaku dalam seribu malam panjang itu, kau yang perlahan pergi meninggalkanku, kau yang beri aku manis pahit itu. Kini kaulah yang membuatku utuh, bersama keputusan yang kuambil, kubiarkan semua itu, bersama senja ini, perlahan memudar… Tentangmu, tentangku, tentang kita yang takkan mungkin pernah kembali.

Berbahagialah bersamanya, langit. Jadikan ia rumahmu. Pulanglah kepadanya. Jangan kau beri janji semu lagi. Melangkahlah, mendakilah, kuyakin semesta akan tetap mengiringi dan akan merengkuhmu. Di jalanku, kau kini hanya akan tinggal disini, di dalam do’a.

Dan kau kini mampu hadir
Menghabiskan hari, menamatkan semuanya
Membuat hari yang terisi utuh penuh
Dan kau mampu hadir
Tanpa harus kau lihat aku yang masih menatap siluet itu
Walau ia telah habis bersama senja yang juga telah pergi

 

“Selamat tinggal…”

Dan kuucap selamat tinggal itu dengan lirih. Ucapan perpisahan yang tak pernah luruh dari mulut kita. Dalam senja yang sudah utuh pudar, dan malam perlahan tiba. Kini sebuah perjalanan baru itu dimulai, perjalananku mencari rumah untukku pulang. Setapak demi setapak, kutinggalkan juga tempat itu. Tanpa menoleh kembali kesana.

Pernah ku simpan jauh rasa ini
Berdua jalani cerita
Kau ciptakan mimpiku
Jujurku hanya sesalkan diriku

Kau tinggalkan mimpiku
Namun ku hanya sesalkan diriku

Ku harus melepaskanmu
Melupakan senyummu
Semua tentangmu tentangku
Hanya harap
Jauh ku jauh mimpiku, dengan inginku

 

Peterpan – Jauh Mimpiku

#30HariLagukuBercerita

Iklan
#30HariLagukuBercerita

Selamat Berlayar, Hati

Penghujung kemarau. Segala yang meranggas akan segera tuntas karena sapa sejuk tetes hujan nantinya. Segala yang meringis akan segera habis karena kerinduannya pada hamparan basah akan segera usai.

Yang kutahu, ini masih kemarau. Masih harus kutunggu dengan tabah kedatangan sang penghujan. Tetapi hujan di hari itu hanya luruh, hanya jatuh, hanya hadir ketika semua terasa semu.

Bagaimana aku harus mendeskripsikan hujan yang tiba-tiba datang di penghujung kemarau? Hujan yang mengakhiri dan menuntaskan dahaga seluruh tumbuhan, menghapuskan kerinduan bumi terhadap tetes-tetesnya.

Hanya rintik dan tetes yang perlahan jatuh ke bumi. Bagaimana jika apa yang kupunya tentang hujan ialah hanya pedih dan perih? Tentang yang perlahan datang dan meninggalkanku dalam hujan. Tentang isak, tentang rindu, tentang keterlambatan, tentang segala penyesalan, tentang panjang penantian semuku, tentang segala hal yang masih tentang langit itu.

Namun kau hanya tiba, hanya hadir, hanya ada bersama hujan yang turun di hari itu.

Hujan yang menyambut penghujan, hujan yang menggantikan kemarau. Hujan yang perlahan tiba dan kemarau perlahan pergi. Dan kita masih hanya tersisa dalam hening bumi menyambut hujan itu.

Kita hanya di sini. Berselimut kepada rintik-rintik hujan yang perlahan menetas dan menetes ke pelukan dasar bumi. Kita hanya di sini, berdua, berpegangan kepada hujan, mencoba tuk tetap menapak ketika hati mungkin sudah mengecup angkasa.

Kau…adakah kau di sini untuk perlahan menggantikan semua pilu yang kupunya bersama rintik hujan? Adakah kau di sini untuk mengakhiri segala pedih yang masih meringis sepi? Adakah kau di sini untuk menerima serpih yang kupunya dengan utuh? Adakah kau di sini untuk membuat kenangan baru tentang hujan?

Tetapi, dengan kau yang ada dan hadir di sini, aku hanya ingin merekam dan menyimpan hujan kali ini. Bersama kau, aku ingin berlayar dan mengalir dalam arus hidup bukan dalam arus mati. Dan bersama kau di sini, aku ingin berlayar menuju satu muara, aku ingin pulang.

Selamat berlayar kembali, hati. Dan selamat datang penghujan. Aku yakin, tetes-tetesmu akan terus bercerita, walau rintik, walau deras, walau kemarau sekalipun.

“Dan jika perasaan ialah air, maka kaulah gravitasi yang membuatnya jatuh dan mengalir. Bukan menetap jengah dalam arus padam.”

Will you remember how we are?
Will you stay with me when I try
To be a better one for you?
In this new world…

It’s strange, it’s a new, new world
It’s loud, it’s a hectic world
And I miss my home, I miss myself
And I miss you
And yet, I finally found that love
Inside my soul
And I jump in joy and I sing my heart away

 

…Dan jadilah muara kemana hati ini kan selalu pulang.

 

 

Nadya Fatira – A New World

#30HariLagukuBercerita

#30HariLagukuBercerita

Kini Hanya Tinggal Serpih

Lagi, apa yang kulihat kini hanya kau, dan kedua matamu yang mendamba satu bintang terang di belahan langit yang lain.

Lagi, apa yang kulihat kini hanya kau yang perlahan mengetuk dan menanti dengan patuh di depan pintu rumah itu.

Lagi, apa yang kulihat kini tak lebih dari tiada, apa yang lagi harus kurasa kini hanya sedih.

Tetapi, apa yang kulihat kini hanyalah api yang membakar habis kayu yang ada di dalam dirinya. Bukan lagi api yang dahulu hanya cukup hangat dengan nyalanya, yang tak padam, yang tak membara dan membakar.

Kemana api yang dulu begitu hidup? Mengapa kau tega membuat kayu itu terlahap habis olehnya. Yang tersisa hanyalah abu, dan yang tersisa hanya aku yang perlahan mengutuki diri ini atas kesalahan itu, lagi.

Jangan hancurkan kayu-kayu itu dengan bara apimu,  jangan kau hancurkan diri itu yang dahulu pernah juga memapahku dalam perjalanan itu,  jangan kau cabik dan kau hapus warna langit itu.

Bukankah keputusanmu ialah untuk mencari kebahagiaan yang baru? Bukankah keputusanmu untuk berjalan dan mendaki bebas? Tetapi kenapa? Kenapa kau sisakan aku disini jika itu hanya untuk melihat kau yang perlahan hancur?

Aku jengah dengan setiap rindu-rindu tentangmu, aku sesak dengan setiap isak itu, aku lelah untuk hanya berdiri disini menantimu, namun kau hanya pergi, namun kau hanya beri aku abu itu.

Aku sudah ingin pergi dan beranjak, tiada pedih yang mampu lebih nyata dari melihat kau jatuh dan hancur… Dan apa yang mampu kulakukan hanya diam, karena kau dan aku bahkan tidak menapak pada jalanan yang lagi sama.

Aku ingin mencukupkan rasa ini, segala sakit ini, namun andai kau tahu, hati inilah yang menahanku tuk tetap ada disini. Walau pedih, walau perih, walau kini hanya tinggal serpih.

“Layarku ingin membentang dan membiarkan angin menghembusnya, tetapi jangkarku lebih mencintai dasar laut yang ada di tepian dermagamu.”

Tetapi hatiku
Selalu meninggikanmu
Terlalu meninggikanmu
Selalu meninggikanmu

Kau buatku terjatuh
Dan terjatuh lagi
Membuatku merasakan yang tlah terjadi
Semua yang terbaik dan yang terlewati
Semua yang terhenti tanpa ku akhiri

Kau hancurkan hatiku, hancurkan lagi
Kau hancurkan hatiku tuk melihatmu
Kau terangi jiwaku, redupkan lagi
Kau hancurkan hatiku tuk melihatmu

…Jangan hancur, hati

Peterpan – Ku Katakan Dengan Indah

#30HariLagukuBercerita

#30HariLagukuBercerita

Reuni dalam Senja Singkat

Kami terduduk berhadapan di meja ini. Bersama harum tanah yang tersentuh tiap rintik hujan. Hanya diam yang waktu suguhkan, tanpa kata, tanpa ucap yang mampu lepas.

Hujan lagi. Jelas masih kuingat, semua cerita tentang hujan. Tentang air mata, tentang senyum, tentang perjalanan panjang… Dan bukankah dia juga menyimpan cerita tentangmu?

Bukankah dulu kau datang ketika hujan deras itu membayangi langit kehidupanku? Ketika langit yang bergetar tidak mampu menahan tetes-tetesnya untuk tidak jatuh. Tetapi kau hanya datang, bukan untuk memayungiku, kau hanya datang menggenggam jemari ini, mengajak dan mengajarkanku lagi tuk mampu bermimpi. Tuk mampu menari sekalipun dalam deras tetes hujan.

Kupandangi matamu yang kosong menatap jalanan basah, menatap hujan. Teduh tatapmu dan kau yang tenggelam dalam bisumu, kau masih sama, masih sama ketika binar dan cahaya teduh itu yang membuat kedua pasang ini jatuh dalam tatapnya. Ketika sepasang tatap mata itu ialah satu yang paling hidup yang pernah ada di dalam ruangan itu. Ketika tatap itu memberikan satu arti hidup; indah.

“Bagaimana kabarmu?”
Suaramu memecah hening, membuat diri ini sejenak bisu, tak mampu berkata. Suaramu, suara yang paling kurindukan selama setengah windu lamanya, selama beratus-ratus malam. Suaramu kini menggema di telingaku, dan aku sejenak berdo’a aku mampu mengingatnya, bahkan untuk merekamnya dan menyimpannya dalam ingatanku.

“Baik, seperti biasanya. Kau sendiri?”
Terbata ku menjawabmu. Sungguh, karena semua terasa semu. Karena nyata hanya tampak seperti malam-malam sepiku dan kerinduan tentangmu. Dan kau kini dihadapanku, semua terasa semu.

“Baik.”
Singkat jawabanmu. Dan yang tersisa hanya obrolan ringan bersama hening yang selalu hadir menjadi jeda.

Sore sudah semakin menua, menampakkan senja yang perlahan mengisi langitnya. Kutatap lagi sosok dihadapanku itu, meneguk secangkir kopi panas yang ia pesan. Betapa rindu, betapa hati ini merindukannya. Walau pedih dan perih yang kurasa ketika rindu itu tiba, tetapi sosoknya terus mengingatkanku tentang sosok orang yang selama sewindu terus menempati ruang itu di hati ini. Sosok yang menjadi penantian panjangku.

Diam yang ada diantara kita kini tak lebih dari putaran film panjang di benakku. Ketika memori memegang kendali atas setiap kenangan yang tersimpan. Semuanya, lebih dari seribu malam perjalanan panjang itu. Setiap simpul senyum, setiap tatap teduh, setiap tawa hangat, setiap warna langit yang merekam setiap perbincangan itu. Dulu, meski hanya dulu.

Kita yang ada disini hanya menyisakan sepi. Diammu hanya mampu memanggil rindu yang sudah kupendam agar tak sekedar tampak dihadapanmu kini.

Kau, langit. Yang suguhkanku beribu warna senja, yang merengkuhku dalam pekat malam, yang berikanku hangat pagi buta, yang kau tunjukkan segala kelabumu dalam duka yang tak kau lisankan, kau tunjukkan aku langit yang senantiasa menahan tetes itu untuk luruh dan jatuh. Kau langit, yang membagi semua warna pelangi, kau biru langit yang tak luput membantuku berpijak, kau langit yang ajarkanku tuk mampu menggantung mimpi-mimpi itu sekali lagi.

Tetapi kau langit, yang kini pergi dari pandang ini. Kau langit, yang beri aku langit tanpa jiwamu lagi. Kau langit, yang kini sisakan aku yang melangkah sepi di dataran lengang ini.

Jika harus kulisankan satu do’a dalam reuni singkat ini, Tuhan, tolong jaga dia. Tolong jaga dia dalam tiap langkahnya, dalam tiap tindaknya… Dalam perjalanannya menuju rumahnya yang baru.

“Sebentar lagi malam, aku harus pulang.”
Kupecah jeda panjang diantara kita. Kuhapus sepi yang membelenggu percakapan kita. Biar, walau sekejap pertemuan ini, biarkan reuni singkat ini menjadi milik kita yang takkan mungkin kembali lagi.

“Ya, hati-hati.”
Ucapmu sebelum beranjak meninggalkan meja itu.

Kutatap punggungmu yang perlahan samar ditelan langit senja yang kian beranjak. Perpisahan itu tak lagi terucap, hanya isak yang coba kutahan. Dan aku mulai melangkah, di sisi jalan yang lain yang jauh berbeda dengan yang kau tapak.

“Selamat melangkah lagi, langitku. Jaga dirimu, jaga warna langitku yang turut pergi bersamamu.”

Jingga di bahumu
Malam di depanmu
Dan bulan siaga sinari langkahmu
Teruslah berjalan
Teruslah melangkah
Ku tahu kau tahu aku ada

Dewi Lestari (feat. Arina ‘Mocca’) – Aku Ada

#30HariLagukuBercerita

#30HariLagukuBercerita

Selamat Datang, Penantian Panjang

Pernahkah kau dengar sebuah kisah tentang waktu diantara pagi utuh dan malam tua? Waktu fajar. Tentang penantiannya, tentang keikhlasannya, tentang kelapangan langitnya yang membentang, tentang diamnya…

Waktu fajar, ya, dia yang ada, dia yang hadir dan dia yang tampak ketika sebagian jiwa yang ada di bumi masih terbang dalam dunia mimpi, ketika tirai-tirai rumah masih tertutup, ketika jendela masih juga terkunci rapat. Ketika apa yang menatap warna langitnya hanya sepi, pasang-pasang mata itu masih terlelap jiwanya masih tak juga sadar.

Dia yang ikhlas tampak dalam keheningan seisi bumi, dia yang dengan ikhlas menggemakan suara azan kepada setiap pasang telinga, dia yang dengan ikhlas membiarkan suara ayam yang berkokok memecah hening, dia yang dengan ikhlas tampak dalam ketiadaan.

Dia yang sabar menanti sang malam habis, mengganti pekat malam dengan hangat warna langitnya yang bagai nyala perapian di malam yang dingin, membuka mata semesta, menyambut dan menjemput mentari dari peraduannya, menyambut seisi bumi sebelum pagi utuh datang menghabisinya. Walau hanya barang sebentar, walau banyak yang tak sempat dan tak sadar akan kehadirannya, walau ia hanya jeda, hanya sebuah jarak pendek, ia tetap tampak untuk sekedar merengkuh bumi dengan hangat warna langitnya.

Penantian, kau ingatkanku kepada sebuah janji semu dalam malam sepi. Mungkinkah penantian ini mampu seindah dan selapang waktu fajar?

Meratap luka dari semua bisik suaranya, menginfeksi sepi, membuat angin yang menderu, gemerisik rumput, air yang menetes dan percik api seakan menyuarakan suaramu di malam itu. Dan sebuah sambutan singkat kepada penantian panjang.

Walau pedih ucapan pamitmu yang tak kaulisankan di malam itu, aku akan menanti. Walau perih ketika ku tatap tapak langkah kepergianmu itu, aku masih menanti. Walau pilu walau sendu walau benar sesak dada ini ketika mengisakkan sosokmu yang perlahan pudar dalam diam, ingatlah aku tetap menanti.

Sambut aku penantian, hujani aku kisah tentang waktu fajar itu lagi, tentang keikhlasan, tentang kesabaran, tentang kelapangan, tentang menunggu dalam diam.

Mungkin aku hanya akan berdiam sepi dalam penantian ini. Mungkin aku hanya akan berdiri dan menantimu lagi disini. Mungkin aku hanya menunggu, menunggu langit yang akan berganti.

Bila rindu ini masih milikmu
Kuhadirkan sebuah tanya untukmu
Harus berapa lama aku menunggumu?
Aku menunggumu

Dan mungkin aku hanya akan menunggu, hingga waktu itu kan tiba datang menjemputku dan membuatku beranjak dari tempat ini. Hingga waktu itu tiba, dimana mungkin apa yang kutunggu adalah menghabiskan penantian ini.

 

Peterpan (feat. Chrisye) – Menunggumu

#30HariLagukuBercerita

#30HariLagukuBercerita

Malam Sepi dan Semua Rindu Tentangmu

Pada suatu malam panjang, refleksi binar cahaya bulan tampak indah terpancar di genangan air itu. Jauh di sana, dengan latar gelap langit malam, bintang-bintang bertaburan dan menari-nari. Sayup-sayup perlahan angin menghembuskan simfoninya. Berselimut pekat, aku mencoba tetap menapak dan menatap.

Tak ada. Masih tak ada selain sepi dan sunyi yang malam suguhkan kepadaku.

Tak ada rasi, tak ada jalan setapak, tak ada suatu penunjuk jalan. Semua masih tak ada ketika aku hanya ingin mencari jalan pulang menujumu.

Aku masih di tempat ini. Sejenak berpikir, adakah kau di sana terdiam, terduduk pada tepian terasmu. Bersama tarian jemarimu pada dawai gitar tuamu. Jawab aku, malam, adakah aku dan dia menatap langit yang sama? Adakah kami berdo’a dan memohon kepada satu bintang yang sama? Kini benarsudah, pikiranku terlalu jauh menerawang langit malam. Karena ini rindu, karena aku merindunya. Adakah satu dari beribu panggilan rindu ini, sekedar terbisik di telinganya?

Hanya sakit dan hampa yang kurasa. Semua terasa salah. Rindu ini benar membuatku berdosa. Karena seakan aku merindu kepada yang salah. Senandung nyanyian rindu itu terus menggema, seakan malam hanya mampu menggelar simfoni rinduku tentangmu.

Aku tahu, kita masihberpijak pada Bumi yang sama. Tetapi mengapa semua terasa sulit? Ketika asa tak mampu lagi menggapai dimana kau berada, ketika rindu terus memanggil tanpa ada satupun jawabannya. Tetes-tetes ini sudah terlalu sering terjatuh, isak ini sudah terlalu dalam tuk menyuarakan rinduku padamu, mengapa langit tak sejenak membiarkanmu mendengar panggilan rindu itu?

Mungkin angin malam menderu terlalu kencang. Mungkin suara air yang menetes dan mengalir meredam semua suara itu. Dan mungkin, egoku terlalu dalam sehingga menutup panggilan rindu itu.

Aku benci malam. Karena malam terlalu sepi tuk mampu memendam suaraku. Suara pikiranku dan suara hatiku yang saling beradu. Malam bahkan terlalu sunyi, untuk meredam isak demi isak yang kian menjadi. Karena malam hanya mampu menyentuhku dengan dinginnya. Karena malam hanya mampu membuat rindu ini semakin menjadi. Dan adakah malam mampu terasa lebih baik, jika semua rindu itu masih tentangmu?


A warning sign

It came back to haunt me, and I realised
That you were an island and I passed you by
And you were an island to discover

Come on in
I’ve gotta tell you what a state I’m in
I’ve gotta tell you in my loudest tones
That I started looking for a warning sign

When the truth is, I miss you
Yeah the truth is, that I miss you so

Coldplay – Warning Sign

#30HariLagukuBercerita

#30HariLagukuBercerita

Sebuah Kabar dari Penyesalan

Hujan turun tanpa henti di hari itu. Menyisakan aku yang berdiridi jalanan lengang ini. Sudah jam 9 malam. Sudah 21 jam lamanya, tetapi hujan hanya mampu mengiringku ke tempat ini.

21 jam yang lalu, aku masih terjaga, masih membungkus bingkisan itu ketika alarm ponselku berdering, mengingatkan bahwa satu nama tepat berulang tahun hari ini. Tetapi jemariku hanya kaku, ia tak mampu mengetik pesan itu. Sebuah ucapan selamat ulang tahun tertahan di ujung jemariku. Dan kuputuskan untuk kembali mengurus bingkisan itu. Sebuah kado.

16 jam yang lalu, aku terbangun, membuka tirai jendelaku, melihat gerimis yang turun rintik-rintik dalam sepi pagi itu. Dan aku bersiap menantang hari ini, apapun yang akan terjadi nantinya.

9 jam yang lalu, masih tak kudapati hadirmu di tempat itu dan aku hanya mampu berdiri menunggu, bersama pakaianku yang semakin basah diguyur hujan, sekotak kue ulang tahun lengkap dengan sebuah bingkisan berpita itu. Sesosok wanita paruh baya muncul membukakan pagar cokelat itu dan dengan suaranya yang lembut menyuruhku untuk masuk.

3 jam yang lalu, aku masih terduduk di sofa itu dengan handuk yang menyelimuti tubuhku diselingi perbincangan hangat dengan wanita paruh baya itu. Dan kau, hanya tiada. Kau hanya tak kunjung hadir di ruangan itu. Dan aku hanya tak tahu, kapan pamit ini mampu kulisankan kepada wanita paruh baya yang duduk dihadapanku itu.

1 jam yang lalu, sosokmu habis ditelan malam. Setelah kau antar aku ke tempat ini. Setelah perbincangan singkat kita. Tentangmu, tentang harimu, tentang hari ini, tentang penyesalanku. Penyesalanku, bukan karenaku telah habiskan 16 jam untuk sekedar menantimu, tetapi karena aku yang terlambat. Aku yang terlambat untuk tahu bahwa selama 16 jam itu juga kau habiskan tuk menemani dirinya, pengisi hatimu yang baru. Bahwa 16 jam yang lalu, kau tetapkan kakimu tuk melangkah pergi dan kau tetapkan hatimu tuk bertamu lagi… Kepada hati yang lain. Bukan aku, bukan hatiku.

Sekarang, saat ini, waktu ini. 21 jam aku ada untuk hari itu, harimu. Tetapi tetap akulah yang terlambat. Untuk semuanya. Lidahku kelu dan mata ini terasa panas. Aku beranjak melangkah meninggalkan tempatku berdiri tadi. Berjalan sepi menelusuri jalanan basah, melangkah menuju rumah.

Bersama hujan, kuterima surat dari penyesalan itu. Bersama hujan, kupadamkan lilin-lilin penantian itu. Dan bersama hujan, aku menangis malam itu.

Kunyalakan ponselku dan kuketik sepenggal kata yang kukirimkan pada nomor itu, kepadamu.

“Selamat berbahagia.”

Kini hari siap berganti, tanggal itu perlahan pergi. Dan ucapan selamat ulang tahun itu hanya tetap tertahan dan luruh bersama tangisanku di bawah hujan.

Jangan berjalan, Waktu
Ada “Selamat ulang tahun”
Yang harus tiba tepat waktunya
Semoga dia masih ada menantiku

Mundurlah, wahai Waktu
Ada “Selamat ulang tahun”
Yang tertahan tuk kuucapkan
Yang harusnya tiba tepat waktunya
Dan rasa cinta yang s’lalu membara
Untuk dia yang terjaga
Menantiku

 

Dewi Lestari – Selamat Ulang Tahun

#30HariLagukuBercerita