Uncategorized

Tentang Kepergian dan Kehilangan

Tiada yang lebih menyakitkan selain merindu kepada ketiadaan.

Kepergian dan kehilangan menyertai apa-apa yang pernah ada, pernah tinggal. Namun rindu selalu hadir sesaat hal itu ada dan sesaat ia pergi, rindu menjadi residu-residu rasa yang pernah ada menyertainya.

Beberapa lembar foto yang pernah diambil, jejak-jejak percakapan yang masih tersimpan, tempat-tempat dimana pernah kita bertemu dan berbincang, serta memento lainnya yang pernah ada.

“Kepergian dan kehilangan adalah kematian-kematian kecil,” itu yang mereka katakan ketika keterpisahan itu benar ada, kau masih ada, begitu pun dengan dirinya, namun perpisahan mengantarkan kita pada sebuah terminologi kepergian dan kehilangan.

Rindu, hari-hari yang sendu, malam-malam yang pilu, asa yang runtuh, dan hati yang tinggal separuh menjadi sisa-sisa keterpisahan yang terjadi. Walau raga masih ada, namun hati yang kehilangan tak mampu terelakkan. Kehilangan membuat kita berteman dengan kesedihan dan air mata.

Hingga pada satu waktu, aku berkenalan dengan bentuk kepergian dan kehilangan yang lainnya, “Kematian” namanya.

Berkali-kali jauh lebih menyakitkan dari tiap kehilangan yang pernah ada. Ketika hati masih utuh menyimpan keberadaannya, dunia sudah tak lagi menyimpan raganya. Tiada lagi tiap peluk, tiada lagi tiap senyum. Tiada lagi tiap lembut sentuhannya, tiada lagi kutemukan sosoknya, tiada lagi aku mampu mendengar suaranya.

Kematian membawa sosoknya pergi kembali kepada Dia, Yang Maha Memilikinya. Ikhlas. Hanya itu yang Dia minta dari kita–mereka yang ditinggalkan sosok itu. Ikhlas karena dirinya sudah kembali dalam rengkuhanNya, ikhlas karena dirinya sudah kembali kepada tempat yang lebih baik dari duniaNya. Ikhlas karena Dia-lah yang benar-benar memilikinya.

Mungkin memang benar adanya, Dia memberikan ganjaran yang luar biasa kepada hambaNya saat Dia mengambil orang yang kita cintai kembali kepadaNya, karena kematian meninggalkan kesedihan yang begitu mendalam. Ganjaran dari setiap ikhlas akan kehilangan sosoknya, janjiNya akan pertemuan kembali denganNya di tempat terbaikNya menjadi kompensasi dan hadiah atas rasa sakit dan sedih yang mendalam tersebut, hanya jika kita mampu ikhlas menerima kepergian dan kehilangan, terlebih kematian.

Hingga detik ini, masih terdapat tiap serpihan-serpihan rindu. Masih terdapat rintik-rintik sendu dan tiap tetes pilu. Hati ini sudah ikhlas, insyaa Allah, yaa Rabbi. Namun rindu ini akan selalu ada. Rindu sebagai residu perasaan yang pernah ada menyertainya saat dirinya masih ada disini.

Dan benar, tiada yang lebih menyakitkan selain merindu kepada ketiadaan. Selain merindu dan kau tak tahu harus berbuat apa atas perasaan itu. Selain menyimpannya sebagai perasaan yang masih mampu terus hidup. Selain menyimpannya sebagai doa-doa yang kauharap, dengan pasti, mampu tersampaikan kepada sosoknya… Yang telah pergi.

Allahummaghfirlahaa warhamhaa wa’aafihaa wa’fu ‘anhaa…

Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun,
Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan hanya kepadaNya-lah kami akan kembali.

Iklan
Uncategorized

Rengkuh

Tiap tetes mata tak kasat mata
Yang kau luruhkan dalam ketiadaan

Tiap isak yang menyesakkan dada
Yang kau sembunyikan dalam diam

Tiap rapuh yang kau peluk
Dan tak kau tunjukkan kepada siapapun

Kembalilah, kemarilah
Karena menyaksikanmu seperti ini
Menyiksaku dengan sungguh

Kembalilah, kemarilah
Bawa tiap rasa sakitmu, tiap kepingan sedih
Bawalah kerapuhanmu, keseparuhanmu

Bawalah dirimu untukku rengkuh

Uncategorized

7:25

 

Pukul tujuh lewat dua puluh lima menit
Dari segala alasan aku hanya ingin waktu mati
Dan membunuh tiap jarak yang membatasi
Menghalangi
Aku untuk kembali
Padamu, untuk terakhir kali

Meskipun kau dan aku tidak pernah berbagi nadi
Dan tiada sama darah yang mengalir
Aku ingin kau mengerti
Betapa aku ingin segera hadir di sisi
Mengantarmu pergi
Untuk terakhir kali

_____________________________________________________

Ya Allah,
Angkatlah penyakitnya
Gugurkanlah segala dosa-dosanya
Lapangkanlah kuburnya
Jauhkan dan haramkanlah ia dari tiap hisab
Serta dari siksa kubur dan api neraka
Terimalah setiap amal dan ibadahnya
Tempatkanlah ia di tempat terbaik di sisiMu
Jadikanlah ia jiwa yang tenang
Yang kembali kepadaMu dengan keadaan ridho
Dan hanya dengan ridhoMu

Masukkanlah ia ke dalam golongan hambaMu
Dan masukkanlah ia ke dalam surgaMu
Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin
Al-Faatiha…

Uncategorized

Saturn

You taught me the courage of stars before you left
How light carries on endlessly, even after death
With shortness of breath, you explained the infinite
How rare and beautiful it is to even exist

I couldn’t help but ask
For you to say it all again
I tried to write it down
But I could never find a pen
I’d give anything to hear
You say it one more time
That the universe was made
Just to be seen by my eyes

With shortness of breath, I’ll explain the infinite
How rare and beautiful it truly is that we exist

Uncategorized

Hopes

.albumtemp

My dear, don’t you worry about a thing
Let’s just sing together
My dear, all of your painful memories
Just bury them deep in your heart

Just let the past be the past
It’s meaningful in that way
Just sing to the one who left you
Say you loved them with no regrets

You suffered so many hardships
You lost what it meant to be new
Let out all the hardships you went through
Let yourself go from the blame

Just let the past be the past
It’s meaningful in that way
Let’s just sing together
Say you dreamed with no regrets

Say you’ll dream new dreams
(Lee Juck – Don’t Worry)

____________________________________________

There was a time I saw this ray of sunshine
Going through my window
And I found my self lost for a moment
I was drowning in my memories, thinking
About everything I did, I have done
The people I have met
Those who have come and gone
By times

There were graces, joys
Yet regrets and miseries
There were a times when I felt
So lost

But by His only grace
And those who truly love me
And cherish me
I could still rise

And this thing
Keep me alive:
Hope.

Uncategorized

Gadis Pada Tepian Senja

Seorang gadis pada tepian senja
Duduk mematung terdera
Oleh tiap asa dan angan

Tatapnya kosong tanpa pijar
Memandang entah kepada apa
Dan siapa yang telah pergi kemana

Di bahunya terdapat beban
Akan apa yang ia perjuangkan
Dan apa yang ia harus relakan

Di bahunya yang tak begitu bidang
Terdapat reruntuhan asa
Yang tak mampu menemukan jalannya

Pada tatap matanya
Terdapat luka dalam
Yang tak mampu ia tampakkan

Pada tatap matanya
Terdapat genangan kenangan
Yang membendung tak mampu menghilang

Pada tatap matanya
Terdapat hujan deras
Menderu tak berujung, tak kunjung reda

Begitu rapuh dan lemah
Dirinya tampak ada dalam ketiadaan
Terengkuh sepi oleh rindu tak bertuan

Hatinya bukanlah sebuah taruhan
Untuk siapapun memasang harga
Karena apa yang ia punya hanyalah
Perasaan tulus dan nyata

Namun ia perempuan
Dialah gadis pada tepian senja
Yang pada hatinya terdapat nyala
Yang tak mampu kau padamkan

Uncategorized

Tinggal Hitam

Kau adalah tiap kata
Yang kutulis tanpa sadar
Mengisi tiap bait dan paragraf
Dari tiap sajak yang mencari makna

Kau adalah tiap pulang
Yang kutuju dalam tiap langkah
Saat raga lelah dan hilang arah
Mendamba untuk segera sampai di rumah

Kau adalah tiap kebenarian
Yang ada dan yang kupunya
Untukku berharap, untukku berdoa
Untukku menerima, untukku melepas

Kau adalah langit dan lautan
Tiap deru angin, tiap gelombang
Tiap biru dan tiap bentang
Yang hilang dalam duniaku yang kini tinggal hitam