Uncategorized

Airports

The place where I left my heart
To its every beats, to its every breaths
To every tears, to every joys
To every hellos and goodbyes

Whether arriving or departing
People do come and go
Embracing the hellos
And waving at the goodbyes

Then, in its lonely crowd
Here’s my living space, my leaving place
Where my heart was longing for home
And where my heart was waiting for new journeys

And there life goes
Living for leaving
Leaving for living
But, still, it goes on

And I love
How airports have taught me
How temporary
Life is

Iklan
Uncategorized

Dua Puluh Tiga

img_4320

Hiduplah
Walau pagi tak selalu cerah
Walau langit tak selalu merona
Walau senja tak selalu indah
Walau malam tak pernah hangat

Hiduplah
Meski pundak terasa berat
Meski dada terasa sesak
Meski langkah hilang arah
Meski tiap tatap terasa gelap

Hiduplah
Walau sekali saja
Meski harus terbit dan terbenam
Berulangkali dan berulangkala
Hingga detik dan detak tak lagi ada

Hiduplah
Karena satu lahun lebih tua
Adalah sebuah hadiah
Yang Tuhan berikan
Untuk kau perjuangkan

Hiduplah dengan nyata.
Bukan dengan seperti apa kau ingin dilihat,
Bukan pula dengan seperti apa yang mereka ingin lihat.
Hiduplah… dengan begitu hidup.

Uncategorized

Tetapi Langit Selalu Satu

Semusim pada belahan bumiku
Tak jua benar semusim yang sama pada milikmu
Jarak terbentang begitu luas
Hingga tak mampu terhitung dalam satu

Pada sebuah lembayung mentari sore
Kau dan aku, mata kita saling beradu
Menatap lengan takdir yang begitu jauh
Kau dan aku, dalam genggamannya namun bukan pada satu takdirnya

Dan dua milik kita bukanlah sebuah
Pada serangkaian bilangan pun tak mampu kita memiliki satu
Hingga pada persimpangan kau hanyalah barat sementara aku timur
Dan titik temu kita hanyalah masa lalu

Tapi langit selalu satu
Dan pada suatu berkas sinar bulan biru
Pandangku hanya satu
Pada langit yang satu, akan kutemui sinar itu lagi

Uncategorized

Sebuah Makna

Saya kira jarak hanyalah sebuah ukuran.
Setiap tempat hanyalah sebuah nama.
Serta usia dan waktu hanyalah sebuah angka.
Dan pulang hanyalah sebuah kata.

Tetapi rindu, memberi mereka makna.
Sebuah makna yang dalam.

________________

I thought that distances were only a measurement.
Every places were only names.
Then age and time were only numbers.
And coming back home was only words.

But, this longing feeling, defines them.
And give them meaning, a deep, deep meaning.

Uncategorized

Yang Telah Lalu

Satu hembus angin di sore tua itu, ketika mendung perlahan menyibak langit yang biru. Perlahan tetes demi tetes hujan jatuh ke dalam rengkuh bumi. Berpijak kedua kakiku berjalan menapaki sebuah kota yang dinamakan masa lalu.

Ada rasa sendu yang berhembus, namun sekejap ada hangat yang menyelimuti tubuh. Satu kosakata dalam kamus bertuliskan ‘Nostalgia’ menyambut pikiranku yang sedang bertamu menuju kota yang dinamakan masa lalu.

Tiada yang mampu kau lihat selain beribu warna senja yang perlahan datang dan pergi secara bergantian menghiasi langit kota ini, jalanan sepi dan sunyi yang lebih didominasi dengan lembutnya hembus angin, maupun tiap rintik hujan yang turun dan mmenggenang. Ironisnya, kota ini begitu mati namun begitu hidup di saat yang sama.

Kota yang dinamakan masa lalu. Entah bagaimana kau mampu begitu terasa dekat dan begitu terasa jauh. Menggapaimu dalam alam pikirku begitu mudah, namun pada kenyataan kaulah yang terjauh yang tak pernah mampu kutuju.

Sudah lama aku berjalan, bahkan berlari dengan setiap tenagaku untuk mampu melangkahkan kakiku meninggalkanmu. Namun, rindu itu tetap di sana, ia mencari pulangnya, di saat apa yang terus kulakukan adalah pergi meninggalkanmu. Pergi karena aku butuh untuk melanjutkan hidup, pergi karena aku butuh udara baru untuk bernapas, disaat mengingatmu begitu menyesakkan dada.

Namun, pada hari ini kugenggam tiket pulangku menujumu, setelah sekian lama aku pergi meninggalkanmu. Anehnya, saat kutiba pada bumi milikmu, ada keindahan yang tak pernah kutemui sebelumnya. Perlahan setapak, dua tapak, hingga selanjutnya kutelusuri jalanan di kotamu. Ada sendu sekelabu langit yang mendung membendung hujan, namun ada hangat yang merona dan merekah indah layaknya bias mentari senja. Rinduku sudah pulang pada peraduannya. Tepat pada setiap sudut kotamu, yang dinamakan masa lalu.

Karena terkadang, pulang bukan sekadar perihal tempat atau seseorang, terkadang pulang ialah perihal kenangan.

Yang telah lalu.