Uncategorized

Leaving

She was there
Loving you from afar
Keeping her eyes on your back
As you were stepping out
Leaving

And she was there
Still be
Loving you
By leaving
Too

Iklan
Uncategorized

Untuk Setiap Warna Langit Yang Turut Pergi Bersamamu

Pernahkah kau sejenak memberi jeda pada diri untuk diam dan menatap langit serta mengingat warna langitnya hari ini?

Mereka memanggilku perempuan pada tepian senja, seorang yang selalu menenggelamkan dirinya pada tiap senja yang ada. Perempuan yang selalu terdiam dan merekam tiap warna senja yang ada. Perempuan yang hanya menyimpan foto dan lansekap setiap warna senja.

Ketika mereka bertanya, mengapa aku begitu mencintai waktu senja, jawabku selalu sama,

Senja. Tahukah kau bahwa takkan pernah kau temui senja yang sama? Bahwa takkan pernah kautemui gradasi warna senja yang sama. Untuk itu, aku akan selalu mengingat tiap warna senja yang ada. Dan senja… selalu indah.

Mungkin sebatas itu yang dapat kujawab dan kusuarakan, tanpa pernah kuperdalam kisah senjaku kepada mereka. Hingga perempuan pada tepian senja itu tenggelam dalam pikirannya dan dalam lukisan langit senja di hadapannya.

Senja. Adalah perpisahan paling indah yang dapat kaulihat. Bagaimana mentari tenggelam pada peraduan, meninggalkan langit, namun diberinya cahaya hangat yang tak sedikitpun menyengat. Dan langit, memberikannya sebuah gradasi warna nan indah dalam ucapan selamat tinggalnya.

Senja. Adalah warna terakhir yang ada sebelum pekat menyelimuti, dan membenamkan langit dalam gulita. Tiap warna terakhir yang mampu kautatap sebelum kau hanya mampu tenggelam dalam hitam.

Dan seseorang, mampu hadir layaknya sebuah senja. Sekejap, benar indah, meninggalkan kesan yang mendalam, kemudian pergi melebur dalam malam dan hilang dari tatap.

Seseorang mampu hadir layaknya sebuah senja. Sebuah batas tak kasat mata dari apa yang begitu ingin kau dekap selamanya dan apa yang mampu pergi begitu cepat. Sebuah lansekap atas apa yang ada di hadapan namun begitu jauh dari pelukan. Setiap warna yang tak mampu kau genggam selamanya.

Seseorang mampu hadir layaknya sebuah senja, setiap warna langit yang akan membuatmu jatuh cinta. Tanpa jeda, tanpa perlu alasan. Dalam tiap hangat jingganya, dalam rona merahnya, dalam sendu birunya. Senja akan selalu indah.

Seseorang mampu hadir layaknya sebuah senja. Tiap kesan akan setiap batas tipis untuk apa yang begitu syahdu dan hidup namun begitu sendu, untuk yang temaram namun indah, untuk apa yang rapuh namun begitu utuh.

Seseorang mampu hadir layaknya sebuah senja, yang kepergiannya mampu menyisakan hitam pekat tanpa warna. Yang pudarnya mampu menyisakan malam dingin tanpa seberkas sinar.

Dan seseorang mampu hadir layaknya sebuah senja, yang kepergiannya mampu membawa tiap warna langit turut pergi bersamanya. Dan seseorang mampu hadir dalam hidup dan menjadi sebuah langit senja yang takkan pudar di hati perempuan itu.

Hingga malam akhirnya tiba, perempuan pada tepian senja itu, kini, memejamkan matanya. Mencoba melukis kembali tiap warna langit senja yang turut pergi bersama langit senja di hatinya, jauh, ke tempat dan waktu yang tak lagi ia mampu menggapainya.

Rabb, jagalah dirinya, jagalah warna langitku yang turut pergi bersamanya.

________________

Teruntuk langit
Dan tiap senja
Dan warna senja yang ada
Dalam hati ini.

Uncategorized

Ketika seorang tercipta untuk kaulihat dengan sempurna. Untuk tetap dan terus tampak sempurna pada setiap kali kedua matamu menangkap cahayanya.

Meski sudah berlari, terbang, melompat sekalipun takkan mampu kau membuatnya untuk tampak lebih sempurna lagi. Karena dia memang sempurna.

Untuk setiap yang kaulakukan, kauberikan terasa tidak pernah cukup.

Untuk tahu bahwa kau takkan pernah mampu ingkar dari takdirmu untuk menyayanginya seumur hidup. Membalas segala kasih sayangnya yang dengan bagaimanapun tidak pernah terasa cukup, bahkan setimpal, bagaimanapun usahamu.

Tetapi kecewa memang sulit tuk dihindari. Lalu, bagaimana mungkin aku mampu membahasakan kecewaku, ketika menyayanginya seumur hidup pun sesungguhnya takkan pernah cukup?

Kau tahu, betapa kau selalu tampak sempurna, betapa aku menyayangimu. Tolong aku, kecewa ini terlalu mengguncang bumi hati ini.

Langit bergetar dan awan berlarian. Langit, tak kuasakah kau menahan hujan itu dulu? Jangan jatuh. Jangan dulu jatuh.

Uncategorized

Sarjana

Karena kau hadir pada saat fajar
Dan pergi pada sebuah senja

Pada waktu di antaranya
Aku pernah ada
Untuk menerima setiap warna langit yang kaupunya
Dan aku pernah ada
Untuk melihatmu terbit dan tenggelam

Dan pada waktu setelahnya
Aku ada, aku akan selalu ada
Untuk menemanimu dalam tiap bait doa

Teruslah melangkah, berjalan, berlari, bahkan hingga terbang
Untuk menggapai dan mencapai tiap asa
Dan mewujudkan tiap mimpi yang kaupunya
Doaku akan selalu ada disana
Tepat di belakangmu untuk menjaga langkahmu
Tepat pada genggamanmu ketika kau sedang terjatuh
Dan tepat dalam hatimu, saat kau sedang sendu

Selamat menempuh fase hidup lainnya,
Sarjana…

Jingga di bahumu, malam di depanmu,
Dan bulan siaga sinari langkahmu.
Teruslah berjalan, teruslah melangkah,
Kutahu kau tahu aku ada.
(Dee – Aku Ada)

15 Juli 2017
Dari kota tempat kau kalungkan perunggumu

Uncategorized

Jangan Pernah Lupakan Senja Hari Ini

img_1218
Senja Biru Sewaktu Azan

“Jangan pernah lupakan senja hari ini…”

“…Walau ia pergi dan takkan kembali. Walau ia hanya sekejap. Walau ia hanya mampu menetap dalam sudut memoar. Walau ia kan hilang dari pucuk tatap. Walau ia kan tenggelam dalam pekat malam. Walau ia tinggal bayang dan kenangan.”

Jika harus kudeskripsikan, bagaimana mentari tak mampu menyombongkan sinar hangatnya sehingga ia bersembunyi di balik mega dan menyisakan lembayung yang melukis tepian awan. Bagaimana jika sore itu berparas, ia tergambarkan seperti sebuah senyuman hangat. Sore itu cerah, menyenandungkan tiap keramahannya pada tiap sudut pasang mata yang menatapnya.

Sore itu kupanjatkan doa-doa, kucurahkan segala isi dalam dada, sembari kutatap semburat langit soreMu nan indah. Aku nyaris meneteskan air mata, karena, Rabb, sungguh kau tahu tiap bait doaku tentangnya, bukan? Dalam sujudku dan pejamku, dalam jauh, bait doa tentangnya kulantunkan bersamaan tiap rindu. Dan kini, ketika bukan hitam yang kulihat, melainkan punggungnya, pada jarak yang mampu kauhitung, pada nyata, doa ini tetap melantun, bahkan lebih syahdu dan lebih rindu, seakan tiap yang dekat adalah yang terjauh.

Kulukis tiap garis yang melukis sosoknya, sembari ku mengeja tiap kata dalam doaku tentangnya.
“Yaa Allah…”
Hatiku mulai membatin memanggil namaMu, pada waktu yang kau ridhai malaikatMu untuk turun ke bumiMu, suara ini, suara yang mampu berbisik dari kedalaman hati, berharap mampu menggema menujuMu, berharap mampu mengetuk pintuMu, berharap mampu terdengar olehMu.

Dengan tiap asa dan harap, kulanjutkan ceritaku kepadaMu. Cerita tentang sosok itu. Yang hanya mampu tersimpan rapih dalam dada, yang mampu tersuara melalui doa.

Hingga senja tiba. Kali ini Kau lukis senjaMu dalam biru. Bersama dengan seberkas cahaya keemasan terakhir mentari sebelum ia padam dalam peraduannya, sebelum senja biru ini berakhir dalam pekat. Bagaimana mungkin, kau merasakan bahagia yang tumpah ruah sekaligus merasakan sedu sedan yang begitu memilukan dada? Sama seperti senja biruMu hari ini. Bagaimana langit tampak begitu sendu ketika mentari bersinar begitu hangat dan terangnya?

Bersamaan dengan senja biruMu. Lagi, ia di sana. Sosok itu ada di hadapan. Tanpa pernah mampu kucapai, tanpa pernah mampu kugapai. Sepasang tanganMu adalah apa yang membuatku selalu melukis jarak. Sepasang tanganMu adalah apa yang membuatku hanya mampu menatap dari kejauhan. Sepasang tanganMu adalah apa yang mampu membuatku menerka rupa senyumnya walau hanya punggungnya yang mampu tertangkap mata. Dan bukankah, sepasang tanganMu lah yang mampu menjaganya di saat aku hanya mampu memanjatkan doa untuknya?

Hingga hujan turun, tetes demi tetes, rintik-rintik. Dengan lembut, tanpa deru dan deras. Senja biruMu mengajarkanku, bagaimana kau mampu merasa jauh dalam jarak yang mampu terbilang dengan angka, bagaimana kau merasa rindu pada apa yang ada di hadapan mata, bagaimana kau merasa sendu dalam sebuah kebahagiaan, bagaimana kau mampu merasa utuh dalam runtuh, bagaimana kau berharap waktu terhenti saat itu juga di saat kau berharap waktu dapat terus berjalan selamanya?

Lengan waktu seakan berhenti mengayun, detik berhenti berdetak. Hanya ada Kau, aku, dan sosoknya. Masih, masih kueja tiap bait doa itu, masih hatiku membatin berusaha memanggilMu dan berdoa kepadaMu dalam hujan yang kauturunkan dengan rahmatMu. Jika saja hidup harus berakhir pada detik itu, aku takkan sanggup untuk menahan tiap bahagia karena Kau utuhkan aku dalam sebuah lansekap, sebuah lukisan indah tentangMu, tentang hujanMu, tentang sosoknya, sungguh kau buat aku begitu merasa cukup dan berharap semua mampu berakhir seperti itu, cukup seperti itu saja. Namun Kau buat aku merasa begitu hidup, sehingga di saat itu juga aku ingin hidup lebih lama lagi. Jauh lebih lama lagi, agar mampu kukenang selamanya lansekap ini, lukisan ini, agar lebih banyak doa yang dapat kupanjatkan, agar lebih banyak hal yang kuceritakan tentangnya kepadaMu, karena seumur hidup pun terasa takkan pernah cukup, takkan pernah mampu sedikit dan sedetikpun cukup untukku mendoakannya kepadaMu.

Dan hujan pun berhenti. Meninggalkan jalanan basah yang memantulkan tiap cahaya rembulan dan lampu jalan. Sama seperti senja biruMu, ia bersinar tetapi jauh di dalamnya, ia berduka. Dan ia berduka, namun ia memilih untuk tetap bersinar.

Rabb,
Seumur hidup begitu panjang
Begitu terasa jauh dan lama
Namun, Rabb,
Seumur hidup takkan mampu
Seumur hidup takkan pernah cukup
Untukku bersimpuh dan bersujud, dan mengadu dalam tiap rindu dan sendu
Tentangnya. Tentang dia.

______________________

Malang, 14 Juni 2017
Untuk doa pada 6, 16/1/2016
Bersama tiap tempuh pada tiap sudut kota,
Bersama mencari berkah bersama anak jalanan dan mereka yang membutuhkan,
Bersama tiap warna langit dan bias senja,
Hingga pada gema azan dan rintik hujan,
Jangan pernah lupakan senja hari ini.