Uncategorized

Kepada Bumi Yang Basah

20131021_154433

Benar atau salah
Hujan tak pernah tahu
Kemana gravitasi
Kan menurunkan rintiknya
Namun dengan sungguh
Hujan berpesan pada awan
Jika awan harus tiada karenanya
Kan ia tanamkan
Setiap tetes cinta awan
Pada hamparan bumi
Yang tak pernah mampu
Menggapai tingginya

Dan kini sudah
Awan habis dalam rintik hujan
Dan tiap tetesnya melebur dalam pelukan bumi yang basah

Iklan
Uncategorized

Bukankah itu Engkau

Dan bukankah itu adalah Engkau
Yang membelah Laut Merah untuk Musa as ketika dirinya tak lagi memiliki jalan keluar

Bukankah itu Engkau
Yang melunakkan besi untuk Daud as
Serta meluluhkan batuan paling keras sekalipun oleh tiap tetes air yang lembut atas kehendakMu

Bukankah itu Engkau
Yang menyejukkan api yang membara untuk Ibrahim as
Yang membelah rembulan untuk Rasulullah saw

Dan bukankah semua itu Engkau
Yang Maha Melihat, Yang Maha Mendengar
Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Yang Maha Dekat

Bukankah itu adalah Engkau, yaa Allah
Tempatku bergantung, tempatku berharap
Hanya di hadapan pintuMu-lah aku mengetuk
Di hadapanmu aku bersimpuh dan bersujud
Hanya kepadaMu-lah aku berserah dan berdoa

Karena, bukankah itu adalah Engkau, yaa Rabb
Yang menggenggam erat diri hambaMu, hidup hambaMu
Dan segala perihal urusan hambaMu
Dan membawanya kemana Engkau meridhainya

Dan bukankah sesungguhnya
Shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku
Hanyalah untukMu semata
UntukMu, Tuhan Semesta Alam

Dan hanya kepadaMu-lah aku mengembalikan segala sesuatu,
Dan bukankah hanya kepadaMu-lah aku kembali

Yaa Allah, aku tahu Engkau tahu
Aku tahu Engkau ada
Aku tahu Engkau melihat dan mendengar

Maka, sudah, kuridhai doaku berlayar pada samuderaMu
Tepikanlah ia pada dermagaMu
Pada waktu yang telah Engkau ridhai

Dan,
Yaa Rabb,
Lapangkahlah dadaku untuk menerima apa yang telah Engkau tuliskan sebagai takdirku,
Serta lapangkanlah pula dadaku untuk melepaskan apa yang telah Engkau tuliskan bukan sebagai takdirku

Uncategorized

It’s You

IMG_4139

The flower blooms, the flower’s numb
With the spirits of bright spring
With the coldness of winter

The sun rises, the sun sets
Along with the dawn
Along with the twilight

The skies are blue, the skies are black
Within the bright day
Within the dark night

People come, people go
By the time they meet
By the time they apart

Life goes on and will be gone
With every breaths with every beats
The time it’s started till the time it’s stopped

A soul wanders, a soul comes back home
Walking through every seasons
Through the days and nights

I was here and I was there
Living by dying
And dying to be alive

But I know, I’ve always known
There will always be You
Where I go and where I return

It’s You, Rabb
It’s You

Kisah Langit dan Laut · Uncategorized

Surat Untuk Langit

Halo, Langit.

Yang selalu terhampar begitu luasnya di hadapan. Bersama tiap bias mentari yang melukis warnamu. Bersama tiap mega yang menghiasi indahmu.

Begitu banyak hal yang mungkin tak mampu kukatakan. Bagaimana aku, lautan, terhampar luas di bawahmu menerima tiap mendung kelabumu, cerah birumu, rona senjamu, dan gelap malammu. Bagaimana aku selalu merefleksikan tiap warna yang kaubawa.

Memandangimu dari kejauhan begitu syahdu dan sendu pada satu waktu. Bagaimana tidak, kaulah langit yang terhampar luas tepat di hadapanku, namun kau pula langit yang begitu jauh dari genggamku.

Bagaimana biru kita mampu berpadu namun raga kita tidak akan pernah satu. Bagaimana udaramu berhembus tepat di atas garis lautku, namun tak pernah mampu kugapai. Bagaimana airku mengalir, menderu tepat di bawahmu, namun kau tak pernah tahu. Apakah perbedaan mampu begitu menyakitkan seperti ini?

Kualirkan tiap tetes airku menuju tiap sela bumi sehingga tak perlu kau membentang birumu sendiri. Namun, mengapa kau tetap begitu jauh saat kau tepat berada di hadapanku? Apakah mendambamu mampu sesakit ini?

Ingin kucerca takdir, ingin kumaki takdir. Olehnya kau dan aku diciptakan begitu berbeda. Olehnya kau dan aku mampu berpadu dalam satu biru, namun tak pernah mampu bersatu. Olehnya kau dan aku berjalan bersama pada satu jalanan namun tak pernah berada dalam satu genggam.

Langit, mengapa kau tetap begitu megah dan indah di atas sana? Di saat aku membiru merefleksikan warnamu. Di saat bumiku terguncang, kau tetap megah dan utuh di hadapan. Apakah yang mampu membuatmu jatuh ke dalam rengkuh biru lautku? Tiadakah di dunia ini sebuah hukum maupun teori yang dapat menjatuhkanmu dalam rengkuh samudraku? Maupun melayangkanku pada pelukan cakrawalamu?

Tiap tetes ini runtuh, ombakku kian menderu dan mendebur, tiadakah usaha lain yang mampu membuatmu melihatku?

Langit, mengapa takdir membuat kau dan aku tertulis sebagai sebuah ironi?

Mengapa mencintaimu sesulit ini?

Uncategorized

Accepting

Got the news today
Doctor said I had to stay a little bit longer and I’ll be fine

When I thought it’d all been done, when I thought it’d all been said
A little bit longer and I’ll be fine

But you don’t know what you got till it’s gone
And you don’t know what it’s like to feel so low
And every time you smile, you laugh, you glow
You don’t even know, you don’t even know

— A Little Bit Longer

____________________________________________________________________

The hardest part’s always been accepting.
To accept who you were, then,
And who you are, now.
And who you have always been.