When It Was Twilight (Waktu Itu Dikala Senja)

 

Pasar Sore
Senja Tua di Sebuah Kota

We walked and ran
Painted our own wings to fly
Below the sun and the blue skies
Time flies as the day came to its edge
And now

The sun is about to set
The twilight is slowly fading
Even our silhouette will be gone
And the dark night will come
Will you,
Stay by my side?

Even the those colors fade away
Even the words silenced by the world
Even our age will be fading
And we’ll be just sitting here
Will you,
Still be there to stay by my side?

________________

Kita telah berjalan dan berlari
Melukis sayap kita tuk terbang tinggi
Di bawah terik mentari dan biru langit
Waktu berlalu sebagaimana hari menjumpai akhir
Dan kini

Mentari akan tenggelam
Senja perlahan memudar
Meskipun siluet kita akan menghilang
Dan gelap malam kan datang
Maukah kau
Tetap di sampingku?

Meskipun tiap warna hilang dan pudar
Meskipun makna kata dibisukan dunia
Meskipun usia kita kan menua
Dan hingga waktu kita hanya mampu duduk terdiam
Maukah kau
Tetap di sana untuk tetap di sampingku?

________________

And now, the night has come
Leave us in the dark skies
I’m no longer see your presence
But, still, I know you’ll forever be there
Your glowing heart, still be
Forever beating in my heart

Dan kini, malam telah tiba
Meninggalkan kita dalam langit gelap
Aku tak lagi dapat melihat hadirmu
Namun, tetap, kutahu bahwa kau akan selamanya di sana
Pendar cahaya hatimu, akan tetap
Berdegup dan berdetak dalam hatiku, selamanya

 

Malang, 6 Maret 2016
Puisi yang didedikasikan untuk ia yang berarti
Judul dibuat olehnya, RRP.

Payung

Pada suatu hari yang baik, ketika mentari tergelincir sudah dari pucuk hari. Ketika perlahan awan mulai menari sepi, meneduhkan sebagian isi bumi. Ketika biru langit perlahan tertutup tirainya yang kelabu.

Perlahan,
Satu tetes,
Dua tetes,
Hingga rintik mulai membasahi bumi,

Hujan turun, lagi, dan tetesnya menyentuh bumi di waktu Para Penduduk Langit–Malaikat turun memenuhi seisi bumi. Dan seketika pintu langit terbuka dan Malaikat siaga mencatat setiap do’a.

Ada yang selalu indah, tentang hujan di waktu Ashar. Tiap hamparan, genangan, dedaunan, dan pepohonan seakan menggubah sajak syahdu yang berpadu. Mereka menyambut waktu terbaik-Mu, menyebut tiap asma-Mu tanpa jemu.

Teringat aku akan satu rindu, pada satu waktu, hujan di waktu Ashar. Ketika Kau ingin hamba-Mu tahu, bahwa Engkau rindu. Ketika Kau bimbing aku untuk mengenal kebesaran-Mu. Ketika Kau inginkan hamba-Mu untuk lebih mempercayai kuasa-Mu.

Rindu yang membeku, rindu yang takkan pernah luruh. Rindu yang tertuju pada sebuah nama yang sering kutanyakan dan kunyatakan pada-Mu. Kau pelihara rinduku untuk nama itu, Kau tuntun aku untuk lebih dahulu menetapkan cintaku pada-Mu. Kau bimbing aku menuju sebuah cara yang lebih dahsyat untuk melantunkan rindu, sebuah penawar terbaik untuk setiap rindu, yaitu dengan sebuah hal ajaib yang disebut dengan do’a.

Pada hujan di waktu Ashar ini, aku mengadu kepada-Mu. Simpanlah dan jagalah rindu ini, Rabb, dan biarkan bait-bait do’a ini membawanya dalam kebaikan. Tanpa harus ada temu, tanpa harus ia tahu.

Dan pada hujan di waktu Ashar, kubuka payungku. Aku, berjalan sendiri di bawah payung. Jika hujan itu adalah tiap tetes rindu, yang turun dalam rintik dan deras, kubiarkan ia membasahi bumiku, karena rasa itu adalah rahmat-Mu. Namun, tuntunlah aku untuk bersabar atas rindu ini. Bimbinglah aku untuk bersabar dalam menenun tiap benang-benang rindu. Biarlah sabarku menjadi menjadi payungku dalam basuhan hujan rindu. Biarkan aku tetap berjalan di bawah payungku, karena rindu ini belum patut untuk luruh bersamaku. Biarkan rindu ini, saat ini, dan hingga waktu terbaik itu tiba, tertulis sebagai do’a.

Yaa Rabb, Engkaulah perekam terbaik setiap do’a hamba-Mu, Engkaulah yang Maha membolak-balikkan hati dan perasaan hamba-Mu, Engkaulah yang memegang dan menggenggam erat hati hamba-Mu, Engkaulah yang menghendaki dan memiliki hati hamba-Mu, dan Engkaulah yang menguasai lagi mengetahui isi hati hamba-Mu…
Simpanlah dan jagalah tiap rindu yang ada dalam bait do’a ini, yaa Rabb…

Tunggu Aku Kembali

snapseed
Stasiun Sebuah Kota (+85 M)

Kota ini tidak lebih dari sebuah tempat dimana tak ada sejarah diri di dalamnya, dimana tak ada kepingan memoar padanya. Namun, hangat sapanya dan biru senjanya pada hari pertama membuat hati rindu entah kepada apa, mencari entah siapa.

Sendu membawaku pergi ke sini, dimana terjauh yang mampu kutempuh adalah tempat paling dekat untuk mengenalmu. Namun, entah bagaimana sapa kota ini menghapus segala pilu, membuat hati begitu rindu, seakan tiap langkah tak asing dengan tapaknya. Entah kepada apa dan siapa, namun, sapa kotamu begitu hangat hingga berangsur hilangkan segala sendu.

Kotamu, membuat orang asing ini tahu tentang apa arti dari sebuah kata pulang. Aku pun heran, bagaimana hati dan diri mampu begitu terikat pada sebuah kota baru yang baru saja kutapaki. Walaupun tak ada memoar terdahulu tentangku pada kotamu dan tak ada sejarah yang pernah tertulis dan terekam di sini. Namun, hati seakan selalu mencari perasaan pulang yang kurasa di kota ini, dan langkah seakan begitu rindu untuk menapaki kota ini, dan dengan pasti, kotamu mengecup pucuk kenangan dan menyentuh palung hati, meninggalkan satu kesan berarti, seakan tiap sudutnya berkata,

“Kenanglah aku dengan bahagia, berjanjilah kau akan kembali, suatu hari nanti..”

Pasti, tunggu aku kembali. Suatu hari nanti.” Aku membatin. Kemudian, memori itu berputar kembali, gerimis tipis dan tiap pendar lampu malam. Di kotamu. Sesendu gelap malam dan sehangat sebuah pelukan. Hatiku sudah rindu, sebelum kereta membawaku pergi jauh dari kotamu.

Dan kini, jauh sudah aku dari kotamu. Tak ada kata lain selain rindu. Untuk tiap senjanya, binar malamnya yang begitu hidup, gerimis tipis yang begitu syahdu, langit biru, terik mentari, gema suara adzan, setiap simpul senyum penduduknya dan perasaan pulang itu sendiri.

Musisi jalanan mulai beraksi
Seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri, ditelan deru kotamu
Walau kini kau telah tiada dan tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
Izinkanlah aku untuk selalu pulang lagi

Bila hati mulai sepi tanpa terobati

(KLa Project)

“Izinkanlah aku untuk selalu pulang lagi bila hati mulai sepi tanpa terobati…”

Batas Langit dan Laut

Setipis batas yang langit dan laut punya
Setipis garis yang memisahkan keduanya
Terlukis dalam satu biru, namun tak pernah satu
Kau adalah tepian pucuk langit
Saat aku dasar palung laut
Adakah hukum-hukum fisis yang mampu menjatuhkanmu ke dalam samudraku?
Maupun melayangkanku pada rengkuh cakrawalamu?

Karena sejauh apapun yang pernah kutempuh
Adalah tempat paling dekat untuk menujumu
Dan sedekat apapun jarak antara kau dan aku
Tetap, batas itu akan selalu ada di sana
Karena setipis dan senyata itu garis yang membatasi kau dan aku

Kau dan aku—kita begitu ironi
Tertulis sebagai sebuah puisi
Tentang kisah langit dan laut
Yang berpadu dalam biru
Namun tak pernah satu

Kini, yang tersisa hanyalah
Tiap uap airku yang mampu menggapaimu
Dan tetes hujanmu bermuara menujuku
Dan kita sebut itu sebagai doa

Mendefinisi

“Definisi cinta itu luas, ya?”

Sebuah suara bertanya kepadaku, memecah hening, dan membuatku berpikir, “Tentu, bagaimana tidak? Luas, teramat luas.”

Ada hari dimana cinta dapat didefinisikan dengan satu simpul senyum ketika kau melihat bias warna mentari yang melukis gradasi langit ketika senja.

Ada hari dimana cinta dapat didefinisikan ketika kau melihat seorang ayah yang menemani anaknya makan siang di sebuah kedai.

Ada hari dimana cinta dapat didefinisikan sebagai sebuah ucapan, “Baru pulang, mbak? Hati-hati..” oleh seorang perempuan penjaga toko di pinggir jalan yang biasa menyapamu ketika berjalan pulang.

Ada hari dimana cinta dapat didefinisikan ketika kau melihat sepasang orang tua yang berjalan bergandengan sambil mengobrol menikmati jalanan yang ada.

Ada hari dimana cinta dapat didefinisikan ketika seorang ibu menangis mencari anaknya yang tidak dapat dihubungi.

Ada hari dimana cinta dapat didefinisikan sebagai suara ayah di pagi hari yang sekadar bertanya bagaimana keadaanmu.

.

Seringnya, mendefinisi cinta tak mampu melalui kata-kata. Mendefinisinya adalah sebuah momen, sebuah tindakan.

Memaafkan, mendoakan dalam diam, menunggu sosoknya pulang, bahkan, terus menjalani hidup pun merupakan definisi cinta.

Namun, adapula definisi cinta ialah ketika Tuhan menjawab setiap tanyamu dengan cara yang paling tidak terduga, yang diam-diam memudahkan segala urusanmu, diam-diam menuliskan kesuksesanmu, diam-diam menjauhkanmu dari segala hal buruk, hingga mematahkan harapan dan hatimu.

Karena Tuhan menciptakan hati seluas langit dan sedalam samudra, definisi cinta tentu akan sama luasnya.

 

Paragraf untuk Tuhan

Rabb,

Ini adalah tulisan, sebuah surat, paragraf-paragraf pikiran hamba-Mu yang sedang bersedih. Sudah berhari-hari, bahkan seiring bertambahnya waktu yang berjalan semenjak hari itu tangis ini semakin pilu, dan kesedihan ini begitu lirih.

Banyak pertanyaan yang aku ajukan kepadamu, mengenai takdir, mengenai kuasa-Mu, mengenai semua rencana rahasia-Mu. Bagaimana aku terus berusaha untuk membuat hati dan pikiran ini berprasangka baik atas segala kehendak-Mu. Sungguh, aku tahu betul, aku tidaklah pantas untuk bersedih atas apa yang telah Kau tuliskan kepadaku.

Hari Jum’at dan pada waktu ashar, bagaimana kau memilihkan waktu terindah untukku. Di hari yang baik dan pada waktu malaikat turun ke Bumi, terimakasih yaa Rabb Kau telah memilihkan waktu yang terbaik untukku.

Namun sungguh, aku hanyalah hamba-Mu yang lemah. Hamba-Mu yang tidak berdaya, hamba-Mu yang lalai. Tapi, Rabb, tentu Kau Maha Mengetahui dan Maha Mengingat apa yang sering kuadukan pada-Mu pada setiap jatuh dan sujudku kepada-Mu, bukan? Bagaimana aku berjanji untuk selalu membawa-Mu dalam jatuhku kali ini.

Berulangkali, berulangkala.. Kau dengar doa hamba-Mu, bahkan ketika hamba-Mu lebih banyak berdoa untuk orang lain melebihi dirinya sendiri. Namun, sungguh, Engkaulah Ar-Rahmaan, Ar-Rahiim.. Kau jawab doaku dengan segala kebesaran kuasa-Mu.

Aku dapat melihatnya berjalan, tumbuh tinggi, hingga pada akhirnya mampu mengecup langit. Betapa Kau tuntun ia menggapai dan mencapai setiap asa dan cita-citanya. Kau wujudkan dan kau jawab setiap doaku.

Betapa Kau-lah Yang Maha Mendengar ketika aku, hamba-Mu yang lemah, mengadu bahwa aku rindu kepada sosok itu. Ketika aku berdoa kepadamu, “Yaa Rabb, jagalah ia selalu dalam besarnya lindungan-Mu, jagalah ia, jagalah hatinya untuk selalu mampu mengingat-Mu. Sungguh aku rindu, yaa Rabb..” dan dalam sekejap Kau hapus kesedihanku atas rindu itu, Kau berikan kabar tentangnya kepadaku, Kau menjawab doaku dengan berbagai cara yang tidak sedikitpun mampu aku terka.

Dan pada waktu bulan Ramadhan, kutitipkan satu doa tentangnya di Tanah Suci, Tanah yang Kau limpahkan begitu banyak berkah di dalamnya, lagi-lagi Kau memberikan jawaban untuk hamba-Mu yang meragu, sehingga tetap, aku berjalan pada garis itu tanpa berjalan mundur.

Namun, tibalah aku pada hari itu. Pada hari Jum’at di waktu Ashar, Kau jatuhkan, Kau patahkan, dan Kau padamkan segala harapan dan keyakinanku. Kau patahkan hati ini dengan begitu dahsyatnya, kau tampar diri ini dengan begitu kerasnya. Yaa Rabb, pada hari itu aku berdoa, “Yaa Rabb, adakah kesempatan lainnya untukku dapat mengubahnya?”, “Yaa Rabb, beri aku kesempatan lagi untuk dapat mengubahnya..”

Serakah, bukan? Betapa serakah hamba-Mu ini yang Kau ciptakan dari tanah itu. Betapa banyak doa yang telah Kau jawab untukku, namun aku terus meminta dan meminta kepada-Mu, berharap Kau mampu mendengarnya dan mengubah segalanya dalam satu tepukan waktu.

Kau turunkan hujan sewaktu senja tiba, agar tak mampu kulihat matahari tenggelam dalam berbagai bias warnanya. Kau turunkan hujan dan aku terus berdoa dalam hati berharap Kau iba dan mampu mendengarnya.

Namun tak ada jawaban dari-Mu. Di hari itu Kau patahkan hati ini dan berikan kesedihan yang begitu hebatnya. Berhari-hari aku hanya mampu berdoa dan menangis dihadapan-Mu. Bahkan hingga detik aku menulis semua ini. Rabb, aku sadar bahwa aku tidak sedikitpun pantas untuk bersedih karena ini. Aku hanyalah manusia yang tidak tahu apa-apa, selagi Kau-lah Maha Mengetahui segalanya. Namun, Rabb, sakit.. Dada ini terasa begitu sesak, air mata urung berhenti mengalir, isakkan ini semakin pilu. Yaa Rabb, maafkan hamba-Mu yang bersedih ini..

Mungkin, Kau patahkan hati ini karena Kau begitu sayang kepadaku, Kau begitu rindu saat hati dan cinta ini tertuju hanya pada satu nama-Mu, sehingga Kau begitu cemburu saat aku terus menghadap-Mu dan berdoa lebih banyak tentangnya dibandingkan untuk diriku, untuk hamba-Mu yang Kau sayang sebegitu rupa.

Yaa Rabb, yaa Rahmaan, yaa Rahiim… Tiada kuasa yang lebih besar dari kuasa-Mu. Maafkan hamba-Mu yang tak bisa berhenti berdoa tentangnya melebihi doa untuk dirinya sendiri. Namun, Rabb, simpanlah setiap doaku kali ini tanpa perlu Kau jawab begitu cepat. Simpanlah setiap doaku tentangnya hingga Kau jawab di waktu yang paling tepat.

Yaa Rabb, jagalah ia sebagaimana Kau selalu menjaganya, limpahkanlah kasih sayang dan rahmat-Mu yang begitu melimpah kepadanya, terangilah hatinya dengan cahaya kasih-Mu, tuntunlah jalannya untuk melangkah menuju-Mu, hiasilah hari-harinya dengan sentuh-Mu, dan penuhilah hidupnya dengan hidayah-Mu..

Yaa Rabb, Engkau Yang Maha Mengetahui segala isi hati, tak ada satupun hal yang mampu hamba sembunyikan kepada-Mu. Tuntun hamba-Mu yang lemah ini untuk ikhlas atas apa yang Kau tuliskan. Tuntun hamba-Mu untuk menjawab kerinduan-Mu dan kembali pada-Mu. Tuntun hamba untuk mengerti segala bentuk kasih sayang-Mu..

Yaa Rabb, jaga namanya dalam Lauh Mahfuzku, pertemukan kami pada waktu terbaik-Mu sebagaimana kau pisahkan kami pada waktu terbaik-Mu. Izinkan aku menjaganya, menggapainya, dan menjemputnya dalam setiap doa-doa yang kupilin dan kuadukan kepada-Mu.

Hanya atas kehendak-Mu dan hanya kepada-Mu lah aku meminta dan memohon pertolongan, dan
Maafkan hamba-Mu yang bersedih, Yaa Rabb…

(Aamiin yaa Rabbal alaamiin..)

Sisakan Aku Satu Tetes Air Matamu

Sisakan aku satu tetes air matamu
Di pucuk kelopak matamu
Jika datang sebuah hari
Kau harus berjalan seorang diri

Sisakan aku satu tetes air matamu
Di pucuk kenangan milikmu
Jika kau tapaki sekali lagi
Setiap jalanan sepi yang dulu kita lewati

Sisakan aku satu tetes air matamu
Di pucuk sendu dan pilu
Jika kau sentuh sebuah hati
Yang dapat buatmu bahagia dan sedih

Sisakan aku satu tetes air matamu
Di pucuk waktu yang akan dan yang lalu
Jika pada saat kau ingat lagi
Pernah kita begitu bahagia sebelum berakhir sepi

Maka,
Sisakan aku satu tetes air matamu
Di setiap pucuk jatuh dan sujudmu
Agar aku mampu menghapus rindumu
Dan tetes terakhir air matamu

Yang kau isakkan
Dan yang kau sisakan
Untukku