Uncategorized

Ketika seorang tercipta untuk kaulihat dengan sempurna. Untuk tetap dan terus tampak sempurna pada setiap kali kedua matamu menangkap cahayanya.

Meski sudah berlari, terbang, melompat sekalipun takkan mampu kau membuatnya untuk tampak lebih sempurna lagi. Karena dia memang sempurna.

Untuk setiap yang kaulakukan, kauberikan terasa tidak pernah cukup.

Untuk tahu bahwa kau takkan pernah mampu ingkar dari takdirmu untuk menyayanginya seumur hidup. Membalas segala kasih sayangnya yang dengan bagaimanapun tidak pernah terasa cukup, bahkan setimpal, bagaimanapun usahamu.

Tetapi kecewa memang sulit tuk dihindari. Lalu, bagaimana mungkin aku mampu membahasakan kecewaku, ketika menyayanginya seumur hidup pun sesungguhnya takkan pernah cukup?

Kau tahu, betapa kau selalu tampak sempurna, betapa aku menyayangimu. Tolong aku, kecewa ini terlalu mengguncang bumi hati ini.

Langit bergetar dan awan berlarian. Langit, tak kuasakah kau menahan hujan itu dulu? Jangan jatuh. Jangan dulu jatuh.

Uncategorized

Sarjana

Karena kau hadir pada saat fajar
Dan pergi pada sebuah senja

Pada waktu di antaranya
Aku pernah ada
Untuk menerima setiap warna langit yang kaupunya
Dan aku pernah ada
Untuk melihatmu terbit dan tenggelam

Dan pada waktu setelahnya
Aku ada, aku akan selalu ada
Untuk menemanimu dalam tiap bait doa

Teruslah melangkah, berjalan, berlari, bahkan hingga terbang
Untuk menggapai dan mencapai tiap asa
Dan mewujudkan tiap mimpi yang kaupunya
Doaku akan selalu ada disana
Tepat di belakangmu untuk menjaga langkahmu
Tepat pada genggamanmu ketika kau sedang terjatuh
Dan tepat dalam hatimu, saat kau sedang sendu

Selamat menempuh fase hidup lainnya,
Sarjana…

Jingga di bahumu, malam di depanmu,
Dan bulan siaga sinari langkahmu.
Teruslah berjalan, teruslah melangkah,
Kutahu kau tahu aku ada.
(Dee – Aku Ada)

15 Juli 2017
Dari kota tempat kau kalungkan perunggumu

Uncategorized

Jangan Pernah Lupakan Senja Hari Ini

img_1218
Senja Biru Sewaktu Azan

“Jangan pernah lupakan senja hari ini…”

“…Walau ia pergi dan takkan kembali. Walau ia hanya sekejap. Walau ia hanya mampu menetap dalam sudut memoar. Walau ia kan hilang dari pucuk tatap. Walau ia kan tenggelam dalam pekat malam. Walau ia tinggal bayang dan kenangan.”

Jika harus kudeskripsikan, bagaimana mentari tak mampu menyombongkan sinar hangatnya sehingga ia bersembunyi di balik mega dan menyisakan lembayung yang melukis tepian awan. Bagaimana jika sore itu berparas, ia tergambarkan seperti sebuah senyuman hangat. Sore itu cerah, menyenandungkan tiap keramahannya pada tiap sudut pasang mata yang menatapnya.
Sore itu kupanjatkan doa-doa, kucurahkan segala isi dalam dada, sembari kutatap semburat langit soreMu nan indah. Aku nyaris meneteskan air mata, karena, Rabb, sungguh kau tahu tiap bait doaku tentangnya, bukan? Dalam sujudku dan pejamku, dalam jauh, bait doa tentangnya kulantunkan bersamaan tiap rindu. Dan kini, ketika bukan hitam yang kulihat, melainkan punggungnya, pada jarak yang mampu kauhitung, pada nyata, doa ini tetap melantun, bahkan lebih syahdu dan lebih rindu, seakan tiap yang dekat adalah yang terjauh.

Kulukis tiap garis yang melukis sosoknya, sembari ku mengeja tiap kata dalam doaku tentangnya.
“Yaa Allah…”
Hatiku mulai membatin memanggil namaMu, pada waktu yang kau ridhai malaikatMu untuk turun ke bumiMu, suara ini, suara yang mampu berbisik dari kedalaman hati, berharap mampu menggema menujuMu, berharap mampu mengetuk pintuMu, berharap mampu terdengar olehMu.

Dengan tiap asa dan harap, kulanjutkan ceritaku kepadaMu. Cerita tentang sosok itu. Yang hanya mampu tersimpan rapih dalam dada, yang mampu tersuara melalui doa.

Hingga senja tiba. Kali ini Kau lukis senjaMu dalam biru. Bersama dengan seberkas cahaya keemasan terakhir mentari sebelum ia padam dalam peraduannya, sebelum senja biru ini berakhir dalam pekat. Bagaimana mungkin, kau merasakan bahagia yang tumpah ruah sekaligus merasakan sedu sedan yang begitu memilukan dada? Sama seperti senja biruMu hari ini. Bagaimana langit tampak begitu sendu ketika mentari bersinar begitu hangat dan terangnya?

Bersamaan dengan senja biruMu. Lagi, ia di sana. Sosok itu ada di hadapan. Tanpa pernah mampu kucapai, tanpa pernah mampu kugapai. Sepasang tanganMu adalah apa yang membuatku selalu melukis jarak. Sepasang tanganMu adalah apa yang membuatku hanya mampu menatap dari kejauhan. Sepasang tanganMu adalah apa yang mampu membuatku menerka rupa senyumnya walau hanya punggungnya yang mampu tertangkap mata. Dan bukankah, sepasang tanganMu lah yang mampu menjaganya di saat aku hanya mampu memanjatkan doa untuknya?

Hingga hujan turun, tetes demi tetes, rintik-rintik. Dengan lembut, tanpa deru dan deras. Senja biruMu mengajarkanku, bagaimana kau mampu merasa jauh dalam jarak yang mampu terbilang dengan angka, bagaimana kau merasa rindu pada apa yang ada di hadapan mata, bagaimana kau merasa sendu dalam sebuah kebahagiaan, bagaimana kau mampu merasa utuh dalam runtuh, bagaimana kau berharap waktu terhenti saat itu juga di saat kau berharap waktu dapat terus berjalan selamanya?

Lengan waktu seakan berhenti mengayun, detik berhenti berdetak. Hanya ada Kau, aku, dan sosoknya. Masih, masih kueja tiap bait doa itu, masih hatiku membatin berusaha memanggilMu dan berdoa kepadaMu dalam hujan yang kauturunkan dengan rahmatMu. Jika saja hidup harus berakhir pada detik itu, aku takkan sanggup untuk menahan tiap bahagia karena Kau utuhkan aku dalam sebuah lansekap, sebuah lukisan indah tentangMu, tentang hujanMu, tentang sosoknya, sungguh kau buat aku begitu merasa cukup dan berharap semua mampu berakhir seperti itu, cukup seperti itu saja. Namun Kau buat aku merasa begitu hidup, sehingga di saat itu juga aku ingin hidup lebih lama lagi. Jauh lebih lama lagi, agar mampu kukenang selamanya lansekap ini, lukisan ini, agar lebih banyak doa yang dapat kupanjatkan, agar lebih banyak hal yang kuceritakan tentangnya kepadaMu, karena seumur hidup pun terasa takkan pernah cukup, takkan pernah mampu sedikit dan sedetikpun cukup untukku mendoakannya kepadaMu.

Dan hujan pun berhenti. Meninggalkan jalanan basah yang memantulkan tiap cahaya rembulan dan lampu jalan. Sama seperti senja biruMu, ia bersinar tetapi jauh di dalamnya, ia berduka. Dan ia berduka, namun ia memilih untuk tetap bersinar.

Rabb,
Seumur hidup begitu panjang
Begitu terasa jauh dan lama
Namun, Rabb,
Seumur hidup takkan mampu
Seumur hidup takkan pernah cukup
Untukku bersimpuh dan bersujud, dan mengadu dalam tiap rindu dan sendu
Tentangnya. Tentang dia.

______________________

Malang, 14 Juni 2017
Untuk doa pada 6, 16/1/2016
Bersama tiap tempuh pada tiap sudut kota,
Bersama mencari berkah bersama anak jalanan dan mereka yang membutuhkan,
Bersama tiap warna langit dan bias senja,
Hingga pada gema azan dan rintik hujan,
Jangan pernah lupakan senja hari ini.

Uncategorized

When It Was Twilight (Waktu Itu Dikala Senja)

 

Pasar Sore
Senja Tua di Sebuah Kota

We walked and ran
Painted our own wings to fly
Below the sun and the blue skies
Time flies as the day comes to its edge
And now

The sun is about to set
The twilight is slowly fading
Even our sillhouette will be gone
And the dark night will come
Will you,
Stay by my side?

Even those colors fade away
Even the words silenced by the world
Even our age will be fading
And we’ll be just sitting here
Will you,
Still be there to stay by my side?

________________

Kita telah berjalan dan berlari
Melukis sayap kita tuk terbang tinggi
Di bawah terik mentari dan biru langit
Waktu berlalu sebagaimana hari menjumpai akhir
Dan kini

Mentari akan tenggelam
Senja perlahan memudar
Meskipun siluet kita akan menghilang
Dan gelap malam kan datang
Maukah kau
Tetap di sampingku?

Meskipun tiap warna hilang dan pudar
Meskipun makna kata dibisukan dunia
Meskipun usia kita kan menua
Dan hingga waktu kita hanya mampu duduk terdiam
Maukah kau
Tetap di sana untuk tetap di sampingku?

________________

And now, the night has come
Leave us in the dark skies
I’m no longer see your presence
But, still, I know you’ll forever be there
Your glowing heart, still be
Forever beating in my heart

Dan kini, malam telah tiba
Meninggalkan kita dalam langit gelap
Aku tak lagi dapat melihat hadirmu
Namun, tetap, kutahu bahwa kau akan selamanya di sana
Pendar cahaya hatimu, akan tetap
Berdegup dan berdetak dalam hatiku, selamanya

 

Malang, 6 Maret 2016
Puisi yang didedikasikan untuk ia yang berarti
Judul dibuat olehnya, RRP.

Uncategorized

Payung

Pada suatu hari yang baik, ketika mentari tergelincir sudah dari pucuk hari. Ketika perlahan awan mulai menari sepi, meneduhkan sebagian isi bumi. Ketika biru langit perlahan tertutup tirainya yang kelabu.

Perlahan,
Satu tetes,
Dua tetes,
Hingga rintik mulai membasahi bumi,

Hujan turun, lagi, dan tetesnya menyentuh bumi di waktu Para Penduduk Langit–Malaikat turun memenuhi seisi bumi. Dan seketika pintu langit terbuka dan Malaikat siaga mencatat setiap do’a.

Ada yang selalu indah, tentang hujan di waktu Ashar. Tiap hamparan, genangan, dedaunan, dan pepohonan seakan menggubah sajak syahdu yang berpadu. Mereka menyambut waktu terbaik-Mu, menyebut tiap asma-Mu tanpa jemu.

Teringat aku akan satu rindu, pada satu waktu, hujan di waktu Ashar. Ketika Kau ingin hamba-Mu tahu, bahwa Engkau rindu. Ketika Kau bimbing aku untuk mengenal kebesaran-Mu. Ketika Kau inginkan hamba-Mu untuk lebih mempercayai kuasa-Mu.

Rindu yang membeku, rindu yang takkan pernah luruh. Rindu yang tertuju pada sebuah nama yang sering kutanyakan dan kunyatakan pada-Mu. Kau pelihara rinduku untuk nama itu, Kau tuntun aku untuk lebih dahulu menetapkan cintaku pada-Mu. Kau bimbing aku menuju sebuah cara yang lebih dahsyat untuk melantunkan rindu, sebuah penawar terbaik untuk setiap rindu, yaitu dengan sebuah hal ajaib yang disebut dengan do’a.

Pada hujan di waktu Ashar ini, aku mengadu kepada-Mu. Simpanlah dan jagalah rindu ini, Rabb, dan biarkan bait-bait do’a ini membawanya dalam kebaikan. Tanpa harus ada temu, tanpa harus ia tahu.

Dan pada hujan di waktu Ashar, kubuka payungku. Aku, berjalan sendiri di bawah payung. Jika hujan itu adalah tiap tetes rindu, yang turun dalam rintik dan deras, kubiarkan ia membasahi bumiku, karena rasa itu adalah rahmat-Mu. Namun, tuntunlah aku untuk bersabar atas rindu ini. Bimbinglah aku untuk bersabar dalam menenun tiap benang-benang rindu. Biarlah sabarku menjadi menjadi payungku dalam basuhan hujan rindu. Biarkan aku tetap berjalan di bawah payungku, karena rindu ini belum patut untuk luruh bersamaku. Biarkan rindu ini, saat ini, dan hingga waktu terbaik itu tiba, tertulis sebagai do’a.

Yaa Rabb, Engkaulah perekam terbaik setiap do’a hamba-Mu, Engkaulah yang Maha membolak-balikkan hati dan perasaan hamba-Mu, Engkaulah yang memegang dan menggenggam erat hati hamba-Mu, Engkaulah yang menghendaki dan memiliki hati hamba-Mu, dan Engkaulah yang menguasai lagi mengetahui isi hati hamba-Mu…
Simpanlah dan jagalah tiap rindu yang ada dalam bait do’a ini, yaa Rabb…

Uncategorized

Tunggu Aku Kembali

snapseed
Stasiun Sebuah Kota (+85 M)

Kota ini tidak lebih dari sebuah tempat dimana tak ada sejarah diri di dalamnya, dimana tak ada kepingan memoar padanya. Namun, hangat sapanya dan biru senjanya pada hari pertama membuat hati rindu entah kepada apa, mencari entah siapa.

Sendu membawaku pergi ke sini, dimana terjauh yang mampu kutempuh adalah tempat paling dekat untuk mengenalmu. Namun, entah bagaimana sapa kota ini menghapus segala pilu, membuat hati begitu rindu, seakan tiap langkah tak asing dengan tapaknya. Entah kepada apa dan siapa, namun, sapa kotamu begitu hangat hingga berangsur hilangkan segala sendu.

Kotamu, membuat orang asing ini tahu tentang apa arti dari sebuah kata pulang. Aku pun heran, bagaimana hati dan diri mampu begitu terikat pada sebuah kota baru yang baru saja kutapaki. Walaupun tak ada memoar terdahulu tentangku pada kotamu dan tak ada sejarah yang pernah tertulis dan terekam di sini. Namun, hati seakan selalu mencari perasaan pulang yang kurasa di kota ini, dan langkah seakan begitu rindu untuk menapaki kota ini, dan dengan pasti, kotamu mengecup pucuk kenangan dan menyentuh palung hati, meninggalkan satu kesan berarti, seakan tiap sudutnya berkata,

“Kenanglah aku dengan bahagia, berjanjilah kau akan kembali, suatu hari nanti..”

Pasti, tunggu aku kembali. Suatu hari nanti.” Aku membatin. Kemudian, memori itu berputar kembali, gerimis tipis dan tiap pendar lampu malam. Di kotamu. Sesendu gelap malam dan sehangat sebuah pelukan. Hatiku sudah rindu, sebelum kereta membawaku pergi jauh dari kotamu.

Dan kini, jauh sudah aku dari kotamu. Tak ada kata lain selain rindu. Untuk tiap senjanya, binar malamnya yang begitu hidup, gerimis tipis yang begitu syahdu, langit biru, terik mentari, gema suara adzan, setiap simpul senyum penduduknya dan perasaan pulang itu sendiri.

Musisi jalanan mulai beraksi
Seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri, ditelan deru kotamu
Walau kini kau telah tiada dan tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
Izinkanlah aku untuk selalu pulang lagi

Bila hati mulai sepi tanpa terobati

(KLa Project)

“Izinkanlah aku untuk selalu pulang lagi bila hati mulai sepi tanpa terobati…”

Kisah Laut dan Langit

Batas Langit dan Laut

Setipis batas yang langit dan laut punya
Setipis garis yang memisahkan keduanya
Terlukis dalam satu biru, namun tak pernah satu
Kau adalah tepian pucuk langit
Saat aku dasar palung laut
Adakah hukum-hukum fisis yang mampu menjatuhkanmu ke dalam samudraku?
Maupun melayangkanku pada rengkuh cakrawalamu?

Karena sejauh apapun yang pernah kutempuh
Adalah tempat paling dekat untuk menujumu
Dan sedekat apapun jarak antara kau dan aku
Tetap, batas itu akan selalu ada di sana
Karena setipis dan senyata itu garis yang membatasi kau dan aku

Kau dan aku—kita begitu ironi
Tertulis sebagai sebuah puisi
Tentang kisah langit dan laut
Yang berpadu dalam biru
Namun tak pernah satu

Kini, yang tersisa hanyalah
Tiap uap airku yang mampu menggapaimu
Dan tetes hujanmu bermuara menujuku
Dan kita sebut itu sebagai doa