Uncategorized

Moving

Packing and unpacking
Going home and leaving home
Arriving then departing
Moving
Life will keep on moving
And it shall be moving

You know your tired soul
To be walking to another place
To be stepping out from another space
But, it’s the journeys
It’s about the memories
All those memorable moments
And those indescribable feelings
You could keep
In your heart
Forever

And life will always be like this: Moving
But you know, your heart, still be, there, always.
And it won’t move anywhere.

Iklan
Uncategorized

Batas Langit dan Laut: Sebuah Paragraf

Sebelum saya berbicara mengenai puisi saya yang berjudul “Batas Langit dan Laut” ada baiknya jika saya memberikan sebuah pengantar. Ini adalah tulisan pertama saya di blog ini yang mungkin agak terkesan tidak formal dengan sudut pandang orang pertama.

Saya merupakan seorang perempuan pembelajar (karena hidup akan selalu menuntutmu untuk belajar), yang memiliki ketertarikan pada menulis, menangkap tiap warna senja, memandangi rintik hujan, dan berdiri menatap langit dan laut. Saya menulis untuk mengabadikan sebuah momen yang tak mungkin dapat terulang. Saya menulis karena saya ada.

Dan dengan ini, saya akan membahas mengenai puisi saya yang judulnya terlampir pada judul tulisan ini.

******

Kisah Langit dan Laut – Batas Langit dan Laut.

Mungkin dapat saya definisikan sebagai tulisan terbaik saya saat ini. Saya katakan demikian karena saya menuliskan hal itu pada fase paling jujur pada diri sendiri. Saya menuliskan puisi itu di sebuah kota di selatan Pulau Jawa. Ketika saya sedang mencoba lari dari kepenatan dan kehidupan saya sendiri. Mencoba bertaruh pada diri ini, apakah dengan pergi ke kota tersebut saya mampu berdamai dengan diri saya ataukah sebaliknya.

Secara geografis dan logis, kota yang terletak di selatan Pulau Jawa ini tentu memiliki banyak pantai. Hingga saya teringat saya pernah singgah ke salah satu pantainya dan mengambil gambar, sebuah lansekap pantai dimana mampu kau dapati bagaimana langit dan laut bersanding. Dari foto itu kemudian saya berfikir, untuk melanjutkan kisah langit dan laut yang pernah saya tulis, bahkan mungkin memberinya sebuah epilog melalui sebuah puisi.

Batas langit dan laut, setiap saya lihat kembali foto itu, ada hal yang begitu indah dan begitu pilu pada satu waktu. Bagaimana mereka mampu bersanding tanpa pernah mampu bersatu. Bagaimana mereka serupa biru namun begitu berbeda. Hamparan laut yang akan selalu berada di bawah bentangan langit. Laut dengan debur deru ombak dan air. Dan langit dengan segala megah udara berhiaskan mega yang menari bebas. Sebuah ironi.

Namun di antara keduanya, terdapat air. Air yang akan selalu mengudara dan menguap menuju langit, hingga ia membentuk mega-mega yang menghiasi birunya, kemudian pergi, hingga ia luruh dalam bentuk tetesan hujan yang akan meluruh pada bumi, mengalir dan menuju muaranya: lautan.

Hingga saat ini, saya akan selalu ingat bagaimana rupa laut dan langit pada sebuah lansekap yang saya ambil di kota tersebut. Bagaimana saya mampu menulis puisi ini tepat di hari saya pergi meninggalkan kota tersebut. Dan saya menemukan jawaban dari setiap pertanyaan yang saya bawa saat datang ke kota tersebut. Dan jawaban itu adalah puisi ini, serta…

“Bumi akan terus berputar dan kehidupan akan terus berjalan sebagaimana harusnya. Sejauh apapun kau melangkah pergi dan sejauh apapun kau berpijak kelak, ingat ini: Doa akan selalu sampai.”

Saya sangat berterimakasih kepada siapa saja yang sudah membaca puisi Batas Langit dan Laut. Saya selalu punya mimpi untuk mampu membagi hidup melalui tulisan, menyentuh hati melalui tulisan. Walaupun puisi ini merupakan puisi yang memiliki kesan sedih dan memang puisi ini puisi paling sedih yang pernah saya tuliskan, namun, ini puisi yang paling jujur dan dari hati yang paling dalam yang pernah saya tulis. Puisi ini membuat saya berdamai dengan diri sendiri, dengan kondisi yang saya hadapi sewaktu itu, puisi ini membantu saya untuk menerima. Terimakasih banyak untuk waktu yang kalian bagi dan luangkan untuk membaca puisi ini dan tulisan lainnya. Dan saya selalu percaya hal ini: Apa yang berasal dari hati pasti mampu menyentuh hati.

Dan semoga…
Seperti langit dan laut, walau berpadu dalam biru namun tak pernah satu, langit dan laut selalu tahu, bagaimana air mampu menyampaikan tiap rasa dan tiap rindu yang dimiliki keduanya.

Uncategorized

Seribu Kata Padam

Seribu kata padam
Bersama malam yang mati rasa
Angin tiada sedikit pun bersuara
Rembulan kaku terdiam
Bersama bintang yang urung berpendar

Seribu kata padam
Melihat begitu jauhnya jarak
Untuk setiap tapak
Agar mampu menggapai kemana kau melangkah
Bersama angin yang meniup angan

Seribu kata padam
Isakku untuk sisa bayangmu
Pergimu hadirkan tiap pilu
Kau tinggalkan langit yang runtuh
Dan semesta membisu

Seribu kata padam
Gelap dan hitam tak bersisa
Aku berdiri tak mampu bergerak
Namun hatiku terus mengucap doa
Semoga baitnya membawa terang
Untukmu yang kini telah jauh melangkah

Seribu kata padam
Karena kata bukan lagi bahasa
Yang mampu kau dan aku suarakan
Dan kini yang tersisa
Hanya doa dalam diam

Uncategorized

Yang Tersimpan

Bahkan semenjak hari itu, bumi terus berputar. Jarum jam terus mengayun, detik terus berdetak, dan hidup tetap berjalan. Dengan atau tanpamu.

Bahkan semenjak hari itu, senja tetap sama, langit tetap begitu luas dalam tatap, laut begitu luas dalam lansekap, malam tetap menghitam bersama seberkas pendar menghiasnya. Dengan atau tanpamu.

Tetapi, kemana pun aku berjalan, kemana pun aku melangkah pergi. Pada biru langit dan biru laut, pada tiap gradasi senja, pada tiap tetes hujan, pada terik mentari dan teduh sinar rembulan, pada tiap sepi dan ramai…

Masih, kutemukan kamu.

Karena hati ini menyimpanmu. Dengan rapih. Tetap dan tepat di tempat sebelum kau pergi meninggalkanku satu tahun yang lalu.

Dan akan tetap di sana.

Dahulu, kini, hingga nanti.

Selalu.

Uncategorized

Sebuah Kabar

Jika saja waktu dapat membeku
Barang sedikit, barang sedetik pun
Akan kuhapus tiap jarak, tiap jauh
Untuk menujumu

Jika saja tiap pintu tak kau tutup
Meski hanya satu bahkan separuh
Untuk kuketuk, untukku masuk
Untuk menujumu

Jika saja kau tahu
Di sini, ada aku, selalu
Yang mengetuk pintu langit itu
Untuk menujumu

Karena kini, aku begitu jauh
Untuk menggapaimu, untuk menujumu
Untuk sekadar memberitahumu
Bahwa sudah kudengar kabar itu

Namun, jangan jatuh, jangan dulu jatuh
Akan kuketuk pintu milikNya
Agar semestaNya selalu menujumu
Untuk merengkuh dirimu dan ibumu — kalian

Semoga selalu baik-baik saja…

Uncategorized

Hari Dimana Semua Tidak Terasa Cukup

d2578caf-1596-4f7a-a4a2-f8524a1af9f0

Malam ini hujan turun dengan manis, rintik-rintik perlahan membasahi bumi kota ini. Jalanan yang basah dan tiap gemerlap lampu kota, serta tiap binar lampu kendaraan membuat malam ini semakin romantis.

Aku menyetir sendiri tanpa tujuan, hanya ingin menikmati malam, hujan, dan kota ini yang sedang merajut puisi nan romantis. Kutatap dan kuresap tiap jalanan yang kulewati. Begitu ramai, namun begitu sepi. Begitu berisik, namun begitu sunyi.

Semakin jauh kubawa mobilku melaju, menelusur dan menghabiskan jarak yang entah dimana kan berujung.

Hingga sampailah aku pada sebuah tempat dimana kutepikan mobilku. Pada sebuah stasiun. Masih. Stasiun ini masih begitu hidup. Saat ini, dan masih begitu hidup pada memoriku.

Kugenggam tiketku menuju masa lalu, bersama suara kereta yang baru saja akan melaju, deru mesin yang terdengar begitu hidup. Kupegangi dadaku, mencari degup yang menderu. Ada sesak, ada isak, ada rindu yang begitu hidup. Ada rindu yang tak mampu luruh. Ada rindu yang hanya mampu membisu, karena suara kereta yang melaju meredam suaranya.

Bertahun-tahun sudah berlalu, stasiun ini masih sama. Masih menyuguhkan tiap keping rindu yang urung hancur bersama waktu. Rasa itu masih selalu ada di sana, utuh dan membeku kaku. Stasiun menjadi sebuah makam, tempatku mengubur tiap rasa dan rindu.

Tempatku terakhir melihat sepasang matamu, tempatku terakhir menatap punggungmu, tempatku melayangkan dan meredam rindu. Tempat terakhir kuakhiri hari dimana semuanya tak akan pernah terasa cukup.

Di sana, rembulan sedang separuh, temaram namun indah, rapuh namun begitu utuh, separuh walau ia satu. Langit belum runtuh, dan tak akan runtuh kembali walau aku bertamu pada kenangan masa lalu.

Perlahan satu demi satu, kutemukan kembali tiap kepingan memori yang sudah lama kukubur. Dulu, saat itu, hingga kini, rinduku tetap satu. Namun, selalu, kubiarkan rindu itu mematung kaku dan berharap tak kutemukan jalan untuk meluruhkan bahkan menghancurkannya.

Kembali kunyalakan mesin mobil, melaju meninggalkan stasiun itu. Roda mobil ini terus berputar, sama halnya dengan bumi. Dan aku akan terus berjalan, seperti hidup yang sebagaimana harusnya terus berjalan.

Sayup-sayup kuingat kembali saat aku mendengar suaramu dan berkata,

“Jalanan itu dinamis, kamu gak boleh statis. Hati-hati dan jaga dirimu.”
.
.
Dan aku menjawab suaramu yang muncul dari alam pikirku,

“Kamu juga… semoga selalu bahagia dan baik-baik saja.”
.
.
Jauh sudah kutinggalkan stasiun itu, namun jauh, jauh di sana, kudengar kembali suara mesin kereta yang melaju…

…membawamu pergi saat itu.